Iran Kirim Proposal Baru ke AS, Apa Isinya?
Iran terungkap telah menyampaikan proposal baru kepada Amerika Serikat melalui Pakistan, ketika kedua pihak melanjutkan diplomasi di balik layar untuk mengubah gencatan senjata yang rapuh menjadi kesepakatan yang lebih permanen. Di saat yang sama, Presiden Donald Trump menegaskan akan mempertahankan blokade laut. Hal tersebut yang berarti menambah ketidakpastian terhadap arah pembicaraan lanjutan.
Inti kebuntuan tetap berada pada nasib Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelum perang menjadi rute sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia. Iran dan AS sama-sama memberi sinyal menunggu langkah pihak lain terlebih dulu sebelum menyetujui pelonggaran pembatasan lalu lintas. Sementara itu, kantor berita pemerintah Iran (IRNA) tidak merinci isi proposal yang dikirim Iran ke AS akan seperti apa, apakah ada kaitannya dengan Hormuz maupun isu nuklir.
Sebelumnya, Trump menyatakan blokade pelabuhan Iran memotong pendapatan minyak yang dibutuhkan Teheran, dan menilai tekanan itu akan mendorong Iran kembali ke meja perundingan. Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menepis efektivitas blokade, sembari menegaskan pembatasan harus dicabut sebagai prasyarat pembicaraan baru dan pembukaan kembali Hormuz, dengan peringatan bahwa situasi ini dapat mendorong harga minyak naik lebih lanjut.
Meski risiko geopolitik tetap tinggi, pasar minyak pada Jumat justru terkoreksi. Brent turun sekitar 3% ke kisaran US$100 per barel, memangkas kenaikan pekan ini menjadi sedikit di atas 5%, mencerminkan tarik-menarik antara premi risiko pasokan dan evaluasi pasar terhadap peluang deeskalasi.
Di Washington, Trump dilaporkan menerima pengarahan pada Kamis dari pimpinan US Central Command dan ketua Joint Chiefs of Staff. Media AS juga melaporkan bahwa militer telah menyiapkan opsi terbatas untuk memecah kebuntuan negosiasi, yang menunjukkan isu keamanan dan diplomasi masih berjalan paralel dan berpotensi memengaruhi persepsi risiko pasar.
Sementara itu, AS mendorong sekutu membentuk kekuatan angkatan laut gabungan untuk mengamankan Selat Hormuz dalam inisiatif yang disebut “Maritime Freedom Construct,” namun dukungan mitra tampak bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata.
Dari sisi Teheran, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan tidak akan melepaskan teknologi nuklir maupun misil, sekaligus mengisyaratkan Iran akan mempertahankan kontrol atas Hormuz. Hal ini membuat pasar kemungkinan tetap memantau dinamika kebijakan, status pembatasan pelayaran, dan sinyal lanjutan dari jalur diplomasi AS-Iran sebagai penentu arah premi risiko energi. (srh)
Sumber: Newsmaker.id