Trump Klaim Iran Beri “Hadiah” Terkait Arus Energi Hormuz
Presiden AS Donald Trump mengklaim Iran menawarkan sebuah “hadiah” sebagai tanda itikad baik dalam negosiasi yang ia sebut sedang berlangsung untuk mengakhiri konflik 25 hari yang mengguncang pasar global. Trump tidak menjelaskan detail hadiah tersebut—yang disebut “bernilai sangat besar”—namun menegaskan hadiah itu terkait arus energi melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia.
Trump mengatakan pembicaraan sedang berjalan dan menyebut sejumlah tokoh AS ikut terlibat, termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, serta Menlu Marco Rubio dan Wapres JD Vance. Ia kembali menegaskan garis besar tuntutan AS: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Meski begitu, optimisme Trump muncul bersamaan dengan langkah Pentagon memperkuat kehadiran militer di kawasan—menambah kesan strategi ganda: mendorong talks sambil menyiapkan opsi eskalasi.
Pasar tetap bingung soal siapa sebenarnya lawan bicara Washington, format pembicaraan, dan sejauh mana peluang kesepakatan. Di sisi energi, Brent ditutup di atas $104/barel, pulih dari kejatuhan tajam pada Senin, seiring pasar menilai meningkatnya risiko perang dan terbatasnya pelayaran di Hormuz. Sejumlah negara Teluk juga memberi sinyal bisa ikut kampanye AS–Israel jika Iran menyerang infrastruktur vital mereka, yang makin menambah kecemasan pasar.
Sementara itu, konflik di lapangan belum melunak. Iran disebut memutar balik kapal kontainer dari Hormuz, sedangkan Israel melanjutkan serangan dengan Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan operasi akan berlangsung “dengan intensitas penuh.” Diplomasi regional pun bergerak: Pakistan menawarkan diri sebagai mediator, India mendorong perdamaian, dan beberapa negara—termasuk Turki, Saudi, dan Oman—disebut terlibat dalam komunikasi jalur belakang untuk menahan eskalasi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id