Emas Naik, Minyak Goyah, Ini Prediksi Kedepannya!
Konflik di Timur Tengah kembali menjadi pusat perhatian pasar global. Eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat pelaku pasar bergerak cepat mencari aset yang dianggap aman, sekaligus menghitung ulang potensi gangguan pasokan energi dunia. Di saat yang sama, pasar juga mulai menimbang apakah ketegangan ini akan berlangsung panjang atau justru mulai mengarah ke de-eskalasi setelah muncul beberapa sinyal politik yang saling bertentangan.
Di tengah situasi tersebut, emas langsung mendapat dorongan kuat sebagai aset safe haven. Harga emas sempat bergerak ke sekitar US$5.200 per ons, menunjukkan bahwa investor masih melihat logam mulia sebagai tempat berlindung ketika risiko geopolitik meningkat. Kenaikan ini bukan hanya dipicu oleh perang, tetapi juga oleh kekhawatiran bahwa konflik yang berlarut-larut dapat menjaga tingkat ketidakpastian global tetap tinggi dalam waktu lebih lama.
Namun, pergerakan minyak justru memberi gambaran yang lebih kompleks. Setelah sempat melonjak tajam hingga mendekati US$120 per barel karena kekhawatiran suplai, harga Brent kemudian turun lagi ke area US$87–88 per barel. Penurunan ini menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi kepanikan awalnya. Artinya, pasar tidak lagi hanya fokus pada ancaman perang, tetapi juga mulai memperhitungkan kemungkinan respons darurat dari negara-negara konsumen energi besar untuk menstabilkan pasokan.
Salah satu faktor yang menekan minyak adalah laporan bahwa IEA mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah. Wacana ini memberi sinyal bahwa jika pasokan terganggu lebih jauh, negara-negara anggota masih memiliki alat untuk menahan lonjakan harga. Karena itu, minyak tidak lagi naik lurus meski konflik belum selesai. Pasar sedang bergerak di antara dua narasi: di satu sisi ada ancaman gangguan pasokan, sementara di sisi lain ada harapan bahwa intervensi kebijakan dapat meredam guncangan harga energi.
Dari sisi kebijakan moneter, kondisi ini menempatkan Federal Reserve dalam posisi yang tidak mudah. Lonjakan harga energi berisiko mendorong inflasi kembali naik, tetapi pada saat yang sama data ketenagakerjaan sebelumnya menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan ekonomi. Reuters melaporkan bahwa The Fed secara luas masih diperkirakan menahan suku bunga pada rapat 17–18 Maret 2026, karena mereka harus menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan pertumbuhan.
Dalam konteks itu, perhatian pasar kini tertuju pada data Consumer Price Index (CPI) Februari 2026 yang dijadwalkan rilis pada Rabu, 11 Maret 2026 pukul 08:30 ET, atau sekitar 19:30 WIB. Data ini penting karena akan menjadi petunjuk apakah tekanan inflasi mulai mereda atau justru kembali menguat. Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, pasar bisa semakin yakin bahwa pemangkasan suku bunga akan tertunda. Sebaliknya, jika inflasi lebih lembut, ekspektasi penurunan suku bunga dapat kembali menguat dan memberi ruang bagi emas untuk bertahan kuat.
Melihat seluruh perkembangan ini, pasar saat ini berada dalam fase sangat sensitif. Prediksi jangka pendeknya, emas berpeluang tetap kuat selama konflik Timur Tengah belum mereda dan jika CPI tidak terlalu panas, sementara minyak akan tetap volatil karena ditarik antara risiko suplai dan wacana pelepasan cadangan strategis. Dampaknya, pasar global bisa terus bergerak fluktuatif: dolar berpotensi menguat bila inflasi tinggi, emas tetap diburu jika ketidakpastian geopolitik bertahan, dan aset berisiko seperti saham cenderung bergerak lebih hati-hati sampai arah konflik dan inflasi menjadi lebih jelas.(asd)
Sumber: Newsmaker.id