Trump: “Batas Saya Cuma Moral Saya”
Presiden Donald Trump mengatakan pada Rabu malam bahwa kekuasaannya sebagai panglima tertinggi pada dasarnya hanya dibatasi oleh “moralitasnya sendiri.” Dalam wawancara luas, ia menepis anggapan bahwa hukum internasional atau aturan global lain bisa menjadi penghalang utama bagi AS untuk menyerang, menginvasi, atau menekan negara lain.
Trump menyebut ia “tidak membutuhkan hukum internasional” dan menegaskan tidak berniat menyakiti orang. Namun saat ditanya lebih jauh, ia juga mengatakan pemerintahannya “tetap mematuhi” hukum internasional—dengan catatan bahwa ia sendiri yang akan menentukan kapan aturan itu berlaku dan bagaimana definisinya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara pandang Trump yang menekankan kekuatan negara, bukan perjanjian, konvensi, atau norma pasca-Perang Dunia II. Ia mengaku sengaja memelihara reputasi “tidak terduga” dan cepat menggunakan opsi militer sebagai alat diplomasi koersif untuk membuat negara lain patuh.
Dalam wawancara itu, Trump bahkan menerima panggilan dari Presiden Kolombia Gustavo Petro, yang disebut khawatir setelah adanya ancaman berulang bahwa AS bisa melakukan langkah terhadap Kolombia seperti yang terjadi pada Venezuela. Contoh ini muncul di saat yang sama ketika Trump dan Menlu Marco Rubio menarik AS keluar dari puluhan organisasi internasional yang selama ini dibentuk untuk kerja sama multilateral.
Trump juga terdengar semakin percaya diri dengan berbagai langkah keras yang ia klaim berhasil, mulai dari serangan terhadap program nuklir Iran, operasi terhadap Venezuela, hingga ambisinya terhadap Greenland—wilayah di bawah Denmark, sekutu NATO. Ia memberi sinyal bahwa menjaga aliansi trans-Atlantik dan mengejar Greenland “mungkin harus dipilih,” sambil menekankan NATO akan melemah tanpa AS.
Di sisi lain, isu pembatasan kekuasaan perang mulai mengemuka di dalam negeri. Senat menyetujui untuk membahas resolusi yang bertujuan membatasi penggunaan kekuatan militer Trump di Venezuela, terutama setelah ia mengisyaratkan keterlibatan AS bisa berlangsung bertahun-tahun. Trump juga menyinggung opsi “jalan memutar” jika kebijakan domestiknya diblokir pengadilan—misalnya mengemas tarif sebagai biaya lisensi—serta membuka kemungkinan penggunaan Undang-Undang Pemberontakan untuk mengerahkan militer di dalam negeri bila ia anggap perlu.(asd)
Sumber: Newsmaker.id