Trump Blak-blakan: “Modi Nggak Seneng” India Mulai Rem Rem Minyak Rusia
Presiden AS Donald Trump mengungkap bahwa Perdana Menteri India Narendra Modi disebut sedang “tidak terlalu senang” dengannya. Alasannya: India merasa terbebani oleh tarif impor tinggi dari Washington. Trump menyampaikan pernyataan itu dalam pertemuan Partai Republik di Washington pada Selasa.
Trump mengatakan hubungan personalnya dengan Modi tetap baik, namun situasi dagang membuat suasana memanas. Ia juga menambahkan bahwa pembelian minyak Rusia oleh India “sudah berkurang secara signifikan,” seolah memberi sinyal bahwa tekanan AS mulai berdampak ke kebijakan energi India.
Ketegangan ini berakar dari kebijakan tarif besar yang Trump terapkan pada Agustus: tarif 50% untuk ekspor India ke AS, disebut sebagai yang tertinggi di Asia. Tarif itu, menurut narasi Trump, terkait dengan sikap India yang tetap membeli minyak Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina.
Masalahnya, meski sudah ada beberapa putaran negosiasi dan beberapa kali komunikasi antara dua pemimpin, kesepakatan dagang bilateral belum juga jadi. Trump pun memberi sinyal campuran: di satu sisi membuka pintu negosiasi, di sisi lain mengancam bisa menaikkan tarif lebih cepat dan bahkan menyinggung kemungkinan tarif baru untuk komoditas tertentu seperti beras India.
Dampaknya terasa di sektor-sektor ekspor India yang menyerap banyak tenaga kerja—seperti tekstil, perhiasan, hingga kulit—yang disebut ikut terpukul. Pemerintah Modi merespons dengan menyiapkan paket bantuan sekitar US$5 miliar untuk menopang eksportir agar tetap bertahan.
Hubungan AS–India juga makin sensitif karena Trump berulang kali mengklaim dirinya ikut “membantu” gencatan senjata India–Pakistan saat konflik bersenjata empat hari pada Mei, klaim yang dibantah India. Dalam pernyataan terbaru, Trump juga menyinggung keluhan India soal keterlambatan pengiriman helikopter Apache—bahkan menyebut India sudah menunggu sampai lima tahun dan memesan 68 unit.
Kalau ketegangan ini berlanjut, pasar akan memantau dua hal: apakah India benar-benar akan mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia demi meredakan tekanan AS, dan apakah negosiasi dagang akhirnya menemukan jalan keluar—atau justru perang tarif makin melebar.(asd)
Source : Newsmaker.id