Budget Inggris Rilis, Pound Goyah
Rilis Annual Budget Inggris pada Selasa (3/3)—yang dibungkus sebagai pembaruan fiskal dengan proyeksi terbaru Office for Budget Responsibility (OBR)—datang di saat pasar global sedang risk-off akibat lonjakan energi. Chancellor Rachel Reeves mengatakan ruang fiskal pemerintah (fiscal headroom) meningkat menjadi £23,6 miliar untuk 2029/30, dari sekitar £22 miliar pada pembaruan anggaran penuh November.
Namun, nada pertumbuhan yang lebih hati-hati ikut membayangi reaksi pasar. Reeves mengacu pada proyeksi OBR yang memangkas outlook, dengan ekonomi Inggris diperkirakan tumbuh 1,1% tahun ini—lebih lemah dibanding proyeksi 1,4% sebelumnya—di tengah ketidakpastian global dan kenaikan biaya energi.
Dampaknya ke mata uang, sterling melemah saat investor menilai kombinasi “fiskal membaik tapi makro melambat” dan risiko inflasi dari energi. Pada 08:28 ET (13:28 GMT), GBP/USD turun 0,65% ke $1,3319, menyentuh level terlemah dalam tiga bulan, sementara terhadap euro relatif stabil di sekitar 87,14 pence.
Transmisi utamanya lewat komoditas: reli minyak memperkeras ketakutan inflasi, membuat pasar mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank of England. Saat yang sama, kenaikan yield gilt mencerminkan repricing risiko inflasi dan suplai pembiayaan—kombinasi yang biasanya kurang ramah bagi GBP ketika sentimen global defensif.
Ke depan, GBP akan sangat sensitif terhadap dua variabel: seberapa lama energi bertahan tinggi dan bagaimana OBR/BoE menilai pass-through inflasi ke harga domestik. Jika premi risiko minyak menetap, narasi “rate cuts ditunda” bisa menopang dolar dan menahan pemulihan pound, meski ruang fiskal yang lebih lapang memberi bantalan terhadap risiko kredit domestik. (Arl)
Sumber: Newsmaker.id