Ekonomi AS Masih Tumbuh, Tapi “Anginnya” Makin Pelan
Sepanjang 2025, gambaran besarnya gini: ekonomi AS masih jalan (aktivitas ekonomi disebut tetap berkembang “dengan laju moderat”), tapi momentumnya terasa makin campur aduk—ada sektor yang tahan banting, ada yang mulai melambat. Pasar dan The Fed juga makin masuk dalam mode “hati-hati”, karena data belakangan nunjukin ekonomi tidak terjun bebas, tapi juga nggak sekuat periode-periode sebelumnya.
Dari sisi inflasi, tekanan harga belum balik jinak ke target 2% The Fed. Data CPI terbaru yang sudah rilis (September) masih menunjukkan inflasi tahunan 3,0% (core juga 3,0%), artinya harga masih naik cukup terasa dibanding target bank sentral. Inilah alasan kenapa ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjut jadi tarik-menarik: ada ruang buat longgar, tapi inflasi juga belum “aman banget.”
Dari sisi tenaga kerja, sinyalnya: mendingin, bukan ambruk. Laporan terbaru menunjukkan penambahan pekerjaan November sekitar 64.000, sementara pengangguran naik ke 4,6% (tertinggi sejak 2021). Ini bikin pasar baca situasinya sebagai job market melemah pelan—cukup untuk bikin pembahasan “rate cuts” tetap hidup, tapi belum cukup buruk untuk memaksa The Fed buru-buru memangkas lagi dalam waktu dekat.
Lalu manufaktur cenderung lemah: ISM Manufacturing PMI November ada di 48,2 (di bawah 50 = kontraksi), jadi sektor pabrik masih ngos-ngosan. Kombinasi inflasi yang masih di atas target + tenaga kerja yang mendingin + manufaktur yang kontraksi bikin kondisi ekonomi AS terlihat “stabil tapi rapuh”: tumbuh, tapi gampang goyah kalau ada kejutan data atau kejadian geopolitik.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id