Rekor Lagi! Emas Naik Tak Terbendung! Cut Rate Masih Jadi Topik Utama
Harga emas dunia kembali melanjutkan reli dan sempat menembus level rekor baru di atas US$4.100 per troy ounce. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi kuat bahwa Federal Reserve (The Fed) akan segera memangkas suku bunga, serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan China yang memicu arus dana ke aset safe haven.
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan depan setelah data inflasi menunjukkan tanda-tanda perlambatan.
Ekspektasi pemangkasan suku bunga ini menekan imbal hasil obligasi AS dan melemahkan dolar, sehingga emas menjadi lebih menarik sebagai aset tanpa imbal hasil.
Selain itu, beberapa pejabat The Fed mulai menyuarakan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang melambat. Sentimen ini memperkuat keyakinan investor bahwa era suku bunga tinggi akan segera berakhir.
“Jika The Fed benar-benar memulai siklus pemangkasan bunga pada kuartal ini, emas bisa menembus rekor baru lagi sebelum akhir tahun,” ujar analis komoditas dari Bloomberg Intelligence.
Dari sisi geopolitik, hubungan AS dan China kembali memanas setelah Washington dikabarkan akan memperketat pembatasan ekspor teknologi chip ke Beijing.
China membalas dengan sinyal pembatasan ekspor logam tanah jarang, yang memicu kekhawatiran terhadap rantai pasok global.
Kondisi ini meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai lindung nilai terhadap risiko ekonomi global.
Beberapa bank sentral dunia juga terlihat menambah cadangan emasnya, sementara lembaga investasi besar terus menambah posisi pada instrumen berbasis emas.
Bank of America bahkan menaikkan proyeksi harga emas ke US$5.000 per troy ounce pada 2026, seiring prospek penurunan suku bunga global yang lebih luas.
Secara teknikal, harga emas masih bergerak dalam tren naik jangka menengah hingga panjang.
Level support terdekat berada di area US$4.050 – US$4.100, sementara resistance utama berada di kisaran US$4.150 – US$4.160.
Jika harga mampu menembus resistance tersebut, potensi penguatan menuju US$4.200 – US$4.250 semakin terbuka.
Sebaliknya, kegagalan menembus level tersebut bisa memicu koreksi teknikal ringan ke area US$4.000 sebelum melanjutkan kenaikan berikutnya.
Indikator RSI masih berada di zona netral–bullish, sementara MACD menunjukkan momentum positif yang terus menguat.
Dalam jangka pendek, strategi buy on dip dinilai masih menarik, terutama di area support US$4.050–4.100, dengan target menuju US$4.150–4.200.
Selama dolar AS belum menguat signifikan dan tensi geopolitik tetap tinggi, arah pergerakan emas diperkirakan masih condong ke atas.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id