Brent Merosot, Namun Trader Waspadai Peluang Rebound
Harga minyak Brent mengalami tekanan hari ini menyusul kekhawatiran pasar terhadap kenaikan produksi OPEC+ dan meningkatnya persediaan minyak global. Kabar bahwa OPEC+ berencana menambah produksi hingga 500.000 barel per hari pada November, ditambah dengan kembalinya ekspor minyak dari kawasan Kurdistan Irak, mendorong ekspektasi kelebihan pasokan yang menekan harga.
Selain itu, data persediaan minyak AS menunjukkan akumulasi stok karena aktivitas kilang dan permintaan yang melambat. Proyeksi EIA memperkirakan rata-rata harga Brent bisa turun ke sekitar USD 59 per barel menjelang akhir 2025 akibat tekanan pasokan yang meningkat.
Faktor geopolitik dan permintaan global juga turut mempengaruhi arah pergerakan Brent. Konflik di berbagai wilayah, kebijakan produksi Rusia, dan permintaan Cina menjadi variabel kunci. Meskipun begitu, belum semua kenaikan produksi OPEC+ terealisasi 100%, sehingga sedikit membantu menahan tekanan ke bawah.
Dari sisi teknikal, tren jangka pendek menunjukkan kemungkinan tekanan jual, dengan support utama di USD 62,6 per barel dan resistance di sekitar USD 66,7. Indikator RSI, MACD, dan ADX menunjukkan sinyal netral, menandakan momentum belum jelas. Trader diimbau berhati-hati menghadapi potensi rebound bila resistance ditembus atau koreksi jika tekanan pasokan menjadi nyata.
Secara keseluruhan, harga Brent hari ini menghadapi sentimen yang bervariasi: tekanan dari peningkatan pasokan dan stok minyak, namun masih terdapat peluang rebound tergantung realisasi produksi dan sentimen pasar global.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id