Brent Loyo di $60—Ini Pemicu dan Level Kritis Hari Ini!
Harga minyak melemah di sesi Asia hari Selasa, melanjutkan penurunan dari hari sebelumnya. Brent turun ke sekitar $59,53/barel dan WTI ke $55,89/barel, karena pasar mulai “ngebayangin” peluang damai Rusia–Ukraina yang makin kuat—yang artinya, sanksi bisa saja dilonggarkan dan pasokan minyak Rusia berpotensi lebih lancar.
Dari sisi fundamental, sentimen damai ini penting karena pasar minyak sekarang sudah sensitif terhadap isu pasokan berlebih. Kalau hambatan logistik dan pembatasan terkait Rusia berkurang, supply terasa makin longgar di market yang memang lagi berat. Financial Times juga menyorot kekhawatiran surplus 2026 yang bisa makin membesar jika supply global bertambah.
Tekanan makin nambah dari China. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan output pabrik melambat ke level terendah 15 bulan dan retail sales melambat paling pelan sejak Desember 2022, memicu kekhawatiran demand global (terutama dari pembeli minyak terbesar dunia) tidak cukup kuat menyerap kenaikan pasokan.
Walau sempat ada faktor yang “harusnya” mendukung (misalnya isu penyitaan tanker dekat Venezuela), dampaknya ke harga terbatas. Pasar menilai stok di laut (floating storage) dan perubahan aliran pembelian (termasuk aktivitas pembelian China) ikut meredam efek berita tersebut terhadap harga.
Dari sisi teknikal, area $60 di Brent itu level psikologis besar: bertahan di atasnya biasanya memancing pantulan (rebound), tapi kalau jebol dan gagal balik cepat, risiko turun lanjutan terbuka. Pada update lain di hari yang sama, Brent juga sempat terlihat melemah ke bawah $60, menandakan level ini benar-benar sedang “diuji”.
Untuk WTI, beberapa analis teknikal melihat harga berada di zona support panjang $55–$60. Artinya, selama WTI masih bertahan di area ini, peluang pantulan tetap ada—tapi kalau tembus di bawah $55, potensi turun bisa lebih dalam karena support besar berikutnya lebih jauh.
Yang perlu dipantau hari ini: headline lanjutan soal negosiasi Ukraina (terutama sinyal soal sanksi/akses pasokan) dan rilis data besar (AS/China) yang bisa mengubah sentimen risk serta arah dolar. Kalau berita damai makin “konkret” + data China tetap lemah, minyak cenderung lebih mudah tertekan; sebaliknya, kalau muncul hambatan negosiasi atau data demand membaik, peluang rebound teknikal bisa muncul dari area support.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id