
Trending

Market Update
Sumber: Newsmaker.id
Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada perdagangan Jumat (23/10), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek perusahaan teknologi dan lonjakan harga minyak dunia. Pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 171,3 poin atau 0,32%, sementara S&P 500 melemah 0,34% dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,44%. Pelemahan ini melanjutkan tekanan terhadap sektor teknologi setelah aksi jual tajam pada perdagangan sebelumnya. Sentimen pasar semakin tertekan ketika harga minyak mentah AS kembali menembus US$100 per barel akibat kekhawatiran meningkatnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Tekanan terhadap saham teknologi masih dipengaruhi kekhawatiran mengenai besarnya pengeluaran dan pembiayaan utang untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Saham perusahaan teknologi berkapitalisasi besar, seperti Microsoft dan Meta Platforms, kembali menjadi perhatian investor, sementara sejumlah saham semikonduktor mulai menunjukkan tanda pemulihan. Sebelumnya, saham CoreWeave anjlok sekitar 10% pada perdagangan Kamis akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap beban utang dan biaya pendanaan perusahaan pusat data. Presiden Yardeni Research, Ed Yardeni, menilai tingginya valuasi saham terkait AI mencerminkan risiko terbentuknya gelembung pasar. Namun, koreksi yang lebih terkendali dinilai dapat membantu mengurangi tekanan spekulatif tanpa harus mengganggu perekonomian secara luas.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan global. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat hingga diperdagangkan di atas US$100 per barel, sementara Brent bergerak di sekitar US$114 per barel. Kenaikan tersebut dipicu laporan mengenai kemungkinan serangan lanjutan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah. Kondisi ini berpotensi mendorong inflasi kembali meningkat dan mempersempit ruang Federal Reserve (The Fed) untuk melonggarkan kebijakan moneter. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak di sekitar 4,97%, mencerminkan perhatian investor terhadap prospek suku bunga dan risiko ekonomi.
Newsmaker mencermati bahwa pergerakan Wall Street masih berpotensi menghadapi volatilitas tinggi akibat kombinasi tekanan saham teknologi, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian kebijakan moneter AS. Kekhawatiran terhadap besarnya kebutuhan pendanaan sektor AI dapat membatasi pemulihan saham teknologi, sementara harga minyak yang bertahan tinggi berisiko memperkuat tekanan inflasi global. Apabila ketegangan Timur Tengah semakin meningkat dan imbal hasil obligasi kembali naik, pasar saham AS berpeluang menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, stabilisasi harga minyak serta membaiknya sentimen terhadap sektor teknologi dapat membuka ruang pemulihan bagi indeks utama Wall Street.