
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (23/10), dengan minyak mentah Brent sempat menyentuh US$114 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global. Brent tercatat naik 0,4% menjadi US$113,62 per barel dan berada di jalur penguatan mingguan lebih dari 3%. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) menguat 0,8% menjadi US$100,26 per barel, meskipun secara mingguan masih mencatatkan penurunan lebih dari 1%.
Kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Analis ING menilai penguatan minyak saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh meningkatnya risiko gangguan pasokan dibandingkan perubahan fundamental permintaan dan penawaran. Sentimen pasar semakin memburuk setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah mempertimbangkan serangan lanjutan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Iran dilaporkan mengancam akan melakukan pembalasan terhadap setiap serangan baru, termasuk kemungkinan menyasar fasilitas ekonomi dan infrastruktur sipil. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu distribusi minyak dari salah satu kawasan penghasil energi terbesar dunia.
Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah lokasi di Arab Saudi. Pada Kamis, perusahaan energi negara Saudi Aramco dilaporkan memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran sebagai langkah antisipasi terhadap ancaman keamanan. Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik yang kembali memanas dapat menghambat pemulihan arus ekspor minyak dari kawasan Teluk. Padahal, data pengiriman yang dilaporkan sebelumnya menunjukkan bahwa volume minyak yang keluar dari kawasan tersebut telah melampaui tingkat sebelum dimulainya serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Di luar Timur Tengah, gangguan pasokan juga muncul dari Libya setelah penutupan salah satu katup pipa yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan pelabuhan Zawiya, sehingga menyebabkan penurunan produksi di kedua lokasi.
Pergerakan harga minyak ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah serta kemampuan negara-negara produsen dalam menjaga stabilitas pasokan. Meningkatnya risiko gangguan ekspor energi berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik pada harga minyak, terutama jika ancaman terhadap jalur distribusi di Teluk Persia semakin besar. Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan juga dapat memperbesar tekanan inflasi global, meningkatkan biaya produksi dan transportasi, serta mempersulit upaya bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter. Sebaliknya, apabila ketegangan geopolitik mereda dan arus pasokan tetap terjaga, harga minyak berpotensi mengalami koreksi setelah mencatatkan penguatan dalam beberapa sesi terakhir.