
Trending

Dolar AS
Sumber: Newsmaker.id
Dolar AS melonjak ke level tertinggi hampir dua pekan pada perdagangan Jumat (28/8) setelah pidato perdana Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole dinilai lebih hawkish dari ekspektasi. Dollar Index (DXY) naik sekitar 0,5% ke 99,65, level tertinggi sejak 18 Agustus, sekaligus membawa greenback menuju kenaikan mingguan sekitar 1%.
Warsh menegaskan bahwa tren inflasi dasar AS belum menunjukkan perbaikan yang berarti dan stabilitas harga tetap menjadi prioritas utama The Fed. Ia menilai pasar tenaga kerja masih konsisten dengan kondisi full employment, tetapi sisi inflasi justru lebih mengkhawatirkan. Pernyataan tersebut membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter dalam waktu dekat.
Ekspektasi kenaikan suku bunga September langsung melonjak. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan 25 basis poin naik menjadi lebih dari 57% dari sekitar 35% sehari sebelumnya. Deutsche Bank bahkan memperkirakan The Fed dapat menaikkan suku bunga sebanyak dua kali tahun ini, yakni pada September dan Desember, apabila data ekonomi tidak melemah secara signifikan.
Pasar obligasi ikut bereaksi keras. Yield Treasury 10 tahun naik sekitar 5,9 basis poin ke 4,729%, sementara yield dua tahun melonjak sekitar 12 basis poin ke 4,352%. Kenaikan yield kembali memperkuat daya tarik dolar dan menekan narasi debasement trade yang sebelumnya muncul akibat kekhawatiran terhadap utang AS yang telah menembus US$40 triliun.
Tekanan dolar turut terasa pada mata uang utama lainnya. USD/JPY sempat menyentuh level 160, pertama kalinya sejak intervensi bersama AS-Jepang pada akhir Juli, sehingga risiko intervensi baru kembali menjadi perhatian. Dolar Kanada juga menuju pelemahan mingguan sekitar 1% akibat meningkatnya perang dagang Washington-Ottawa, meskipun ekonomi Kanada tumbuh 3,3% secara tahunan pada kuartal II.
Analisis Newsmaker: pidato Warsh menjadi perubahan besar bagi ekspektasi pasar karena memperkuat skenario rate hike September. Selama inflasi belum turun signifikan, dolar dan yield Treasury berpeluang tetap mendapat dukungan. Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas dan aset berisiko, sementara DXY berpeluang menguji area 100 jika data AS berikutnya tetap kuat. Namun, data tenaga kerja yang jauh lebih lemah masih dapat kembali memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga.(arl)
Sumber: Newsmaker.id