
Trending

usdjpy
Sumber: Newsmaker.id
Yen Jepang masih berada di dekat level terendah dalam sekitar satu bulan pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, meski sempat menguat tipis ke bawah 160 per dolar AS. USD/JPY bergerak di sekitar 159,8, sementara yen telah melemah sekitar 1,7% sepanjang satu bulan terakhir. Tekanan terutama datang dari penguatan dolar setelah komentar hawkish Ketua Federal Reserve Kevin Warsh meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS pada September.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 57% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin bulan depan. Ekspektasi tersebut mendorong yield Treasury AS tenor dua tahun naik ke sekitar 4,33%, sehingga mempertahankan kesenjangan imbal hasil yang lebar antara aset AS dan Jepang. Kondisi ini membuat dolar tetap lebih menarik bagi investor dan menjadi salah satu penyebab utama tekanan terhadap yen.
Dari Jepang, pasar mulai meningkatkan taruhan bahwa Bank of Japan dapat kembali menaikkan suku bunga pada September untuk merespons pelemahan yen dan risiko inflasi impor. Namun, yen telah kehilangan lebih dari separuh penguatan yang diperoleh setelah intervensi bersama Jepang dan AS pada akhir Juli. Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang juga tetap membebani mata uang tersebut.
Kenaikan harga minyak menjadi tekanan tambahan karena Jepang sangat bergantung pada impor energi. Eskalasi baru konflik AS-Iran mendorong Brent kembali ke sekitar US$90 per barel, meningkatkan risiko biaya impor dan inflasi bagi Jepang. Meski inflasi yang lebih tinggi dapat mendorong BOJ lebih hawkish, dalam jangka pendek kenaikan biaya energi justru dapat memperburuk neraca perdagangan dan membebani yen.
Menurut Newsmaker, arah yen saat ini masih sangat bergantung pada pertarungan antara kebijakan The Fed dan respons BOJ. Selama pasar mempertahankan ekspektasi kenaikan suku bunga AS dan selisih yield kedua negara tetap lebar, yen berpotensi tetap menghadapi tekanan. Namun, pelemahan mendekati atau melewati 160 per dolar akan terus meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan langkah kebijakan atau intervensi baru dari Tokyo maupun Washington.(CP)