
Trending

audusd
Sumber: Newsmaker.id
AUD/USD bergerak melemah tipis pada perdagangan Kamis (10/9), diperdagangkan di sekitar 0,7215 pada awal sesi Asia. Koreksi terjadi setelah dolar Australia sebelumnya menguat hingga sekitar 0,7238, level tertinggi sejak pertengahan Mei, seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA).
Tekanan terhadap Aussie terutama datang dari sikap investor yang lebih berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat. Pasar menantikan Producer Price Index (PPI) AS pada Kamis, sebelum data CPI dirilis Jumat, untuk memperoleh petunjuk baru mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
Sentimen risk-off global juga membatasi penguatan AUD. Harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel akibat meningkatnya konflik AS-Iran mendorong kekhawatiran inflasi global dan menekan pasar saham Asia. Kondisi tersebut cenderung menjadi hambatan bagi dolar Australia yang sensitif terhadap perubahan selera risiko investor.
Meski demikian, penurunan AUD/USD masih relatif terbatas karena pasar semakin memperkirakan bahwa RBA masih dapat kembali mengetatkan kebijakan moneter. Pejabat RBA Sarah Hunter mengatakan pengetatan tambahan mungkin diperlukan apabila tekanan inflasi tetap kuat. Ekspektasi tersebut membantu menjaga daya tarik dolar Australia.
Data resmi RBA juga menunjukkan AUD/USD berada di 0,7232 pada 9 September, naik dari 0,7209 pada awal pekan. Inflasi Australia masih berada di atas sasaran, dengan trimmed mean inflation tercatat 3,6% secara tahunan pada kuartal Juni, sehingga pasar tetap mempertimbangkan kemungkinan suku bunga Australia bertahan tinggi atau kembali dinaikkan.
Untuk perdagangan berikutnya, arah AUD/USD akan sangat dipengaruhi data inflasi AS. PPI yang lebih panas dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Fed dan menekan AUD/USD kembali menuju area 0,7200. Sebaliknya, PPI yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi melemahkan dolar AS dan membuka peluang bagi Aussie untuk kembali menguji area 0,7235–0,7240.(CP)