
Trending

Minyak
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia mencatat penurunan mingguan tajam pada perdagangan Jumat (6/11/2026), ketika investor menimbang risiko meningkatnya kembali konflik militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah pemilu paruh waktu AS.
Kontrak berjangka Brent ditutup naik tipis US$0,03 menjadi US$98,32 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,31 ke US$90,83 per barel. Meski mencatat kenaikan harian, Brent anjlok lebih dari 16% sepanjang pekan, sedangkan WTI kehilangan hampir 13%, mencerminkan perubahan tajam ekspektasi pasar terhadap risiko geopolitik dan keamanan pasokan energi global.
Kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik masih membayangi pasar setelah berakhirnya pemilu paruh waktu AS. Pendiri sekaligus Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, memperkirakan peluang dimulainya kembali pertempuran mencapai 80%, yang menurutnya dapat mendorong harga Brent dan WTI melampaui US$100 per barel. Namun, harapan penyelesaian diplomatik juga muncul setelah Iran dilaporkan mengirimkan proposal terkait program nuklir kepada Washington melalui Qatar. Perkembangan tersebut membuat investor berhati-hati dalam menentukan arah harga minyak karena peluang perdamaian dan risiko perang masih sama-sama terbuka.
Di sisi lain, keamanan jalur distribusi minyak Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah Iran melaporkan tiga serangan tambahan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pada Kamis. Data United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga menunjukkan bahwa insiden terhadap kapal komersial masih berlangsung pada tingkat yang mendekati rekor.
Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pengiriman minyak melalui salah satu jalur energi terpenting dunia. Dengan demikian, arah harga minyak selanjutnya diperkirakan sangat dipengaruhi perkembangan perundingan AS-Iran, keamanan Selat Hormuz, serta keputusan politik Washington setelah pemilu.
Sumber: Newsmaker.id