
Trending

Emas
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas dunia melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan mendorong penguatan dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Emas spot turun 0,3% menjadi US$4.074,36 per troy ounce, setelah sempat merosot lebih dari 1% hingga menyentuh US$4.033,29. Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Desember ditutup melemah 0,9% pada US$4.074,90. Meski terkoreksi, emas masih mencatat kenaikan sekitar 5,2% sepanjang pekan, menuju penguatan mingguan terbesar sejak Agustus.
Tekanan terhadap emas meningkat setelah data Nonfarm Payrolls (NFP) Oktober menunjukkan pertumbuhan pekerjaan AS melampaui ekspektasi, sementara tingkat pengangguran turun menjadi 4,1%. Kondisi tersebut memperkuat keyakinan pasar bahwa Federal Reserve masih memiliki ruang untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat guna mengendalikan inflasi. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember meningkat menjadi 81% dari sebelumnya 72,8%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Indeks dolar AS turut menguat sekitar 0,7% ke level tertinggi sejak 29 Oktober, sementara yield Treasury tenor 10 tahun naik, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga.
Di sisi lain, penurunan harga minyak akibat harapan meredanya konflik AS-Iran turut memengaruhi ekspektasi inflasi global. Namun, kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi Timur Tengah masih membayangi pasar. Permintaan fisik emas dari India dilaporkan meningkat menjelang festival Diwali setelah harga logam mulia mengalami koreksi dari level tertingginya.
Sementara itu, perak menguat 0,8% menjadi US$52,18 per ounce dan platinum naik 1,6% ke US$1.541,42, sedangkan paladium melemah 0,6% menjadi US$1.024,59. Investor kini mencermati arah dolar, yield Treasury, dan kebijakan The Fed untuk menilai keberlanjutan pemulihan emas.
Sumber: Newsmaker.id