
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Inflasi inti Australia kembali menunjukkan tekanan pada Juli setelah Trimmed Mean CPI naik 0,5% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga yang mendasari perekonomian masih cukup kuat dan belum sepenuhnya bergerak menuju level yang nyaman bagi Reserve Bank of Australia.
Trimmed Mean CPI menjadi salah satu indikator penting yang diperhatikan RBA karena menghilangkan komponen harga dengan pergerakan ekstrem. Karena itu, kenaikan indikator ini memberikan gambaran bahwa tekanan inflasi tidak hanya berasal dari beberapa barang tertentu, tetapi masih cukup luas di dalam perekonomian.
Inflasi tahunan sebesar 3,6% juga menunjukkan tekanan harga inti masih berada di atas kisaran sasaran RBA. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan pendekatan hati-hati dan mengurangi ruang untuk membicarakan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
Data tersebut muncul setelah risalah pertemuan RBA sebelumnya menunjukkan adanya perbedaan pandangan di antara pembuat kebijakan mengenai apakah inflasi yang persisten membutuhkan kenaikan suku bunga tambahan. Angka CPI terbaru dapat memberikan argumen lebih kuat bagi kelompok yang ingin mempertahankan kebijakan ketat.
Bagi pasar valuta asing, data inflasi yang lebih kuat secara teori positif bagi dolar Australia, karena dapat meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama atau bahkan membuka kembali peluang kenaikan suku bunga. Namun, arah AUD tetap akan dipengaruhi sentimen dolar AS dan kondisi pasar global.*