
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran membuka peluang kembali ke meja perundingan dengan Amerika Serikat, meski hubungan kedua negara masih jauh dari normal. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan diplomasi masih mungkin dihidupkan kembali, tetapi Washington harus lebih dulu membangun kepercayaan, menghormati hak Iran, dan menjalankan komitmennya.
Pernyataan tersebut muncul setelah pembicaraan Iran dengan Qatar mengenai pembukaan jalur transit aman melalui Selat Hormuz. Tehran menegaskan tekanan ekonomi tidak akan cukup untuk memaksa Iran kembali berunding. Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington belum berniat membuka pembicaraan baru dan masih memilih strategi tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Iran juga mengaitkan masa depan Selat Hormuz dengan konflik yang lebih luas di Timur Tengah. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebut setiap kesepakatan mengenai Hormuz harus disertai penghentian operasi militer di Gaza, Lebanon, dan Suriah, termasuk tuntutan terhadap Israel untuk menarik diri dari Lebanon dan menghentikan serangan di Suriah.
Meski negosiasi politik masih buntu, Iran kini mengizinkan koridor sementara dan terbatas bagi kapal untuk melintasi Hormuz. Sebelumnya Iran dan Oman juga membahas jalur pelayaran bersama sementara dan proyek pembersihan ranjau. Namun, skala lalu lintas masih jauh dari normal. Data Kpler menunjukkan hanya sekitar lima kapal yang melintasi Hormuz pada Selasa, dibandingkan sekitar 130 kapal per hari sebelum perang.
Militer AS memberikan gambaran berbeda. Komando Pusat AS menyatakan jalur pelayaran internasional telah dibuka dan mengatakan pasukan AS telah membantu sekitar 1.500 kapal komersial serta 750 juta barel minyak melewati kawasan dalam beberapa bulan terakhir. Perbedaan antara klaim operasional AS dan data lalu lintas aktual menunjukkan normalisasi Hormuz masih belum sepenuhnya tercapai.
Analisis Newsmaker: kondisi Hormuz mulai menunjukkan deeskalasi terbatas, tetapi belum bisa disebut normal. Iran telah membuka jalur sementara, sementara AS masih mengandalkan tekanan ekonomi dan belum menunjukkan minat kembali ke kesepakatan Juni. Bagi minyak, situasi ini menjaga bias harga tetap relatif tertahan karena risiko pasokan mulai berkurang, tetapi setiap kegagalan diplomasi atau gangguan baru di Hormuz dapat dengan cepat mengembalikan premi geopolitik ke Brent dan WTI.(yds)
Sumber: Newsmaker.id