
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Laporan Wall Street Journal menyebut pemerintahan Presiden Donald Trump tidak berminat kembali ke memorandum kesepahaman Juni dengan Iran. Kabar tersebut langsung menghidupkan kembali kekhawatiran terhadap Selat Hormuz, mendorong Brent naik menembus US$88 per barel dan menekan sejumlah indeks saham utama.
Kesepakatan Juni sebelumnya dirancang untuk membuka kembali Hormuz dan memulai pembicaraan mengenai program nuklir Iran dengan imbalan pelonggaran sanksi serta akses Teheran terhadap aset yang dibekukan. Namun, kerangka tersebut runtuh setelah serangan terhadap kapal kembali terjadi dan Washington kemudian beralih ke strategi tekanan ekonomi maksimum.
Iran juga menunjukkan posisi yang sama kerasnya. Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa Hormuz hanya dapat dibuka apabila AS kembali pada kerangka kesepakatan sebelumnya dan menerima sejumlah persyaratan Teheran. Perbedaan tafsir mengenai kewenangan Iran dalam mengatur akses kapal melalui Hormuz semakin memperumit peluang kompromi.
Upaya mediasi intensif dalam beberapa hari terakhir pun belum menghasilkan terobosan. Kunjungan Kepala Angkatan Darat Pakistan Asim Munir, pembicaraan Oman dengan Iran, hingga pertemuan Qatar dengan pejabat Teheran belum mampu menghasilkan kerangka yang disepakati bersama. Klaim Iran mengenai kesepakatan jalur transit dengan Oman juga belum dikonfirmasi secara resmi oleh Muscat.
Tekanan ekonomi AS terhadap Iran juga meningkat melalui Operation Economic Outcast, yang menargetkan hampir 60 entitas dan memperluas sanksi ke sektor aset digital, teknologi, emas, penerbangan, serta pelayaran. Sementara itu, lalu lintas Hormuz masih jauh di bawah kondisi normal, dan laporan sebuah tanker kembali terkena proyektil semakin memperbesar premi risiko geopolitik.
Analisis Newsmaker: laporan bahwa Washington meninggalkan kerangka kesepakatan Juni mengubah sentimen pasar dari harapan deeskalasi menjadi risiko kebuntuan baru. Selama tidak ada kerangka negosiasi pengganti dan pelayaran Hormuz tetap terbatas, minyak berpeluang mempertahankan premi risiko. Penembusan Brent di atas US$88 membuka peluang rebound lanjutan, terlebih jika muncul gangguan kapal baru. Sebaliknya, kabar kompromi dari mediator Oman atau Pakistan dapat kembali menekan harga dengan cepat. (arl)
Sumber: Newsmaker.id