
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Iran menyatakan sedang menyiapkan daftar syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan ini disampaikan Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei sebagai tanggapan atas permintaan para mediator.
Rezaei mengatakan salah satu syarat utama Iran adalah berakhirnya perang di kawasan tersebut. Menurutnya, Amerika Serikat harus lebih dulu mengambil langkah nyata untuk memenuhi tuntutan Teheran sebelum Iran membuka kembali jalur strategi itu.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama pasar karena merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia. Ketidakpastian pembukaan jalur ini membuat risiko gangguan pasokan minyak tetap tinggi, meskipun beberapa upaya diplomasi mulai berjalan.
Sebelumnya, pejabat Iran juga memperingatkan bahwa Teheran dapat menargetkan kepentingan ekonomi AS jika blokade maritim terhadap Iran terus berlanjut. Ancaman ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kedua negara masih jauh dari mereda.
Rezaei juga mengklaim Iran telah berhasil “mematahkan blokade maritim” selama masa gencatan senjata. Ia menyebut Iran telah mengekspor sekitar 70 juta hingga 80 juta barel minyak, dan penjualan minyak Iran telah kembali ke level sebelum sanksi.
Analisis Newsmaker: Pernyataan Iran menunjukkan pembukaan Selat Hormuz belum akan terjadi secara cepat, karena Teheran masih menunggu konsesi nyata dari AS. Bagi pasar minyak, kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap hidup. Jika kondisi Iran dianggap berat dan AS tidak memberi respons positif, Brent dan WTI kembali mendapat dorongan naik. Namun, jika mediator berhasil melakukan kompromi, tekanan pasokan bisa meredam dan harga minyak berisiko terkoreksi. (asd)
Sumber: Newsmaker.id