
Trending

Global & Ekonomi
Sumber: Newsmaker.id
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan kampanye ekonomi besar-besaran untuk memutus Iran dari jaringan ekonomi global. Washington memperingatkan bahwa negara maupun perusahaan yang tetap melakukan bisnis dengan Teheran berpotensi menghadapi sanksi AS. Bessent menyebut langkah tersebut sebagai upaya “economic asphyxiation” terhadap rezim Iran.
Washington akan meminta para pemimpin negara lain menghentikan hubungan ekonomi dengan Iran dalam batas waktu tertentu. Jika permintaan tersebut tidak dipatuhi, Departemen Keuangan AS menyatakan siap mengambil tindakan secara sepihak. Langkah ini memperluas strategi tekanan ekonomi yang sebelumnya telah dijalankan melalui kampanye Economic Fury.
Bessent mengatakan AS akan menyasar lima jalur vital perekonomian Iran, yakni aset digital, teknologi, emas, penerbangan, dan pelayaran. Namun, pemerintah AS belum menjelaskan secara rinci bentuk sanksi maupun batas waktu penerapannya, sehingga pasar masih menunggu seberapa agresif implementasi kebijakan tersebut.
Kebijakan ini berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ekonomi Iran, tetapi belum tentu cukup untuk memaksa Teheran menyerah terhadap tuntutan Washington. Iran telah menghadapi sanksi selama puluhan tahun dan sebagian besar sektor strategisnya sudah menjadi sasaran pembatasan. Tantangan terbesar bagi AS adalah memastikan negara-negara seperti China benar-benar mengurangi hubungan dagang dengan Iran.
Analisis Newsmaker: pengumuman ini berpotensi menjadi katalis penting bagi minyak, emas, dolar, dan aset safe haven. Jika sanksi sekunder benar-benar diterapkan terhadap bank atau perusahaan negara lain, risiko gangguan perdagangan dan pasokan energi dapat meningkat. Terlebih, tekanan ekonomi ini belum tentu membuat Iran melonggarkan kontrol terhadap Selat Hormuz. Artinya, pasar masih menghadapi risiko eskalasi ekonomi yang dapat berubah menjadi gejolak energi global. (arl)
Sumber : Newsmaker.id