
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan hari ini setelah pasar mulai mengurangi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan global. Brent crude berada di sekitar area US$98–99 per barel, sementara WTI bergerak di kisaran US$89–90 per barel. Tekanan jual terjadi setelah adanya perkembangan positif terkait jalur distribusi minyak Arab Saudi serta sinyal potensi penurunan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, sentimen utama minyak masih berasal dari perkembangan konflik Timur Tengah. Beroperasinya kembali East-West Pipeline Arab Saudi memberikan alternatif jalur ekspor yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz, sehingga pasar mulai menurunkan premi risiko geopolitik. Selain itu, peluang adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran turut mendorong ekspektasi bahwa gangguan suplai energi dapat berkurang apabila terjadi kemajuan diplomasi.
Namun, tekanan terhadap minyak masih dibatasi oleh risiko geopolitik yang belum sepenuhnya hilang. Aktivitas kelompok bersenjata di kawasan Timur Tengah serta potensi gangguan terhadap infrastruktur energi tetap menjadi faktor yang dapat kembali mendorong kenaikan harga secara cepat. Di sisi lain, pasar juga memperhatikan prospek permintaan global karena kebijakan moneter ketat bank sentral, termasuk The Fed, berpotensi menekan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi.
Secara teknikal, Brent saat ini masih berada dalam fase koreksi setelah gagal mempertahankan momentum kenaikan sebelumnya. Area support terdekat berada di US$97,00–97,50 per barel, dan apabila tekanan jual berlanjut, harga berpotensi menguji level berikutnya di sekitar US$95,00. Sementara itu, area resistance berada pada US$100,00–101,00, dan penembusan level tersebut dapat membuka peluang penguatan menuju US$103,00–105,00. Untuk WTI, area support penting berada di US$89,00–88,00, dengan potensi penurunan lanjutan menuju US$86,50 apabila tekanan bearish semakin kuat. Dari sisi atas, resistance berada di sekitar US$92,00–93,00, dan breakout area tersebut dapat membawa harga kembali menguji US$95,00.
Ke depan, arah pergerakan Brent dan WTI masih akan sangat bergantung pada keseimbangan antara risiko geopolitik dan kondisi pasokan global. Jika tensi Timur Tengah kembali meningkat, minyak berpeluang mendapatkan dukungan dari sentimen safe supply risk. Namun, apabila jalur distribusi kembali normal dan pasar melihat adanya peningkatan pasokan, tekanan koreksi masih dapat berlanjut. Investor juga akan mencermati data persediaan minyak Amerika Serikat serta pergerakan dolar AS sebagai katalis berikutnya.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id