
Trending
Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas mulai menunjukkan pemulihan setelah mengalami koreksi tajam sepanjang September. Data PCE Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan memberikan sedikit ruang bagi emas untuk rebound, dengan probabilitas kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober turun setelah rilis inflasi tersebut. Spot gold sempat bergerak di sekitar US$4.187 per ons pada perdagangan Kamis.
Namun, secara fundamental tekanan terhadap emas belum sepenuhnya hilang. Dolar AS masih berada di level tinggi dan yield Treasury tetap meningkat, sehingga opportunity cost memegang aset non-yielding seperti emas masih besar. Bahkan setelah PCE melunak, yield Treasury tetap berada di level tinggi karena pasar masih mencermati risiko inflasi energi dan prospek kebijakan The Fed.
Dari sisi geopolitik, harga minyak yang masih tinggi akibat ketidakpastian konflik dan negosiasi AS-Iran juga menjadi faktor yang harus diperhatikan. Jika harga energi kembali meningkat, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama dan membatasi ruang The Fed untuk melonggarkan kebijakan. Artinya, emas saat ini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: inflasi yang lebih lunak mendukung emas, sementara yield dan dolar yang tinggi masih menjadi hambatan.
Secara teknikal, emas masih berada dalam fase recovery setelah sell-off, sehingga kenaikan saat ini belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren. Area US$4.100–US$4.120 menjadi support penting setelah harga sebelumnya turun hingga sekitar US$4.123, sedangkan US$4.190–US$4.200 menjadi resistance awal yang perlu ditembus untuk memperkuat momentum bullish. Jika harga mampu bertahan di atas US$4.200, perhatian berikutnya dapat bergeser ke area US$4.230–US$4.250. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan US$4.100 akan kembali membuka risiko tekanan lebih dalam.
Sumber: Newsmaker.id