
Trending
.jpeg)
Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Secara fundamental, minyak masih mendapatkan dukungan kuat dari risiko geopolitik Timur Tengah. Pemerintah Yaman yang didukung Saudi melancarkan operasi untuk merebut wilayah yang dikuasai Houthi, sementara kelompok Houthi mengklaim menyerang fasilitas Saudi Aramco. Perkembangan ini meningkatkan risiko gangguan di jalur perdagangan Laut Merah dan pasokan energi kawasan. Namun, kenaikan ekspor minyak Timur Tengah mulai membatasi tekanan bullish sehingga pasar belum sepenuhnya kekurangan pasokan.
Di sisi supply, sentimennya mulai berimbang. G7 berencana melepas hingga 100 juta barel cadangan minyak dan diesel dalam beberapa bulan ke depan, yang berpotensi menambah pasokan dan menekan harga dalam jangka pendek. Namun, OPEC+ justru mempertahankan target produksi November karena gangguan ekspor akibat konflik masih berlangsung. Artinya, pasar menghadapi dua kekuatan sekaligus: tambahan supply dari cadangan strategis dan keterbatasan produksi efektif akibat gangguan geopolitik.
Secara teknikal, Brent masih menunjukkan struktur bullish. Brent berada di sekitar US$102–103 pada perdagangan sesi Asia Senin (5/10) dan masih berada di atas MA20, MA50, serta MA200. RSI berada di sekitar 63 dan MACD masih memberikan sinyal positif, sehingga momentum naik belum rusak. Namun, indikator stochastic sudah berada di area overbought. Resistance terdekat berada di sekitar US$102,7–103,1, sedangkan area US$101,9–102,3 menjadi support penting.
Untuk WTI, struktur juga masih cenderung bullish tetapi momentum mulai perlu diwaspadai. WTI bergerak di sekitar US$91–92, dengan MA20 dan MA50 berada di sekitar US$91. Area US$90,9–91,1 menjadi support penting, sedangkan US$91,8–92 menjadi resistance awal. RSI masih netral-bullish dan MACD positif, tetapi stochastic sudah overbought. Jadi, selama support bertahan, peluang retest resistance masih terbuka; penembusan support dapat memicu koreksi lebih dalam.
Minyak saat ini masih punya bias bullish, tetapi bukan bullish tanpa risiko. Konflik Timur Tengah dan risiko terhadap jalur perdagangan tetap menjadi katalis utama, sementara keputusan OPEC+ menahan produksi memberikan fondasi tambahan. Namun, pelepasan cadangan G7 dan pemulihan ekspor dapat membatasi kenaikan. Secara teknikal, gue lebih melihat potensi konsolidasi atau pullback terlebih dahulu sebelum mencoba naik lagi. Kunci minggu ini adalah apakah Brent mampu menembus area US$103 atau justru kembali jatuh di bawah support US$102.