
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak dunia bergerak volatil pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya mengalami tekanan akibat perubahan sentimen terhadap risiko pasokan global. Brent crude bergerak di sekitar US$98 per barel, sementara WTI berada di kisaran US$92 per barel, dengan pasar masih mencermati perkembangan geopolitik Timur Tengah, khususnya hubungan AS–Iran yang dapat berdampak terhadap stabilitas pasokan energi. Ketidakpastian terkait jalur distribusi minyak global masih memberikan dukungan terhadap harga, meskipun harapan terhadap perkembangan diplomasi mulai membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.
Dari sisi fundamental, minyak masih mendapatkan dorongan dari meningkatnya premi risiko akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Risiko terhadap jalur perdagangan energi serta kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang menjaga harga tetap berada pada level tinggi. Namun, kenaikan minyak masih menghadapi tekanan dari potensi perlambatan ekonomi global yang dapat menekan permintaan energi. Investor juga terus memantau kebijakan produksi negara-negara eksportir minyak serta perkembangan data ekonomi global untuk melihat keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Dari sisi teknikal, pergerakan Brent crude menunjukkan fase konsolidasi setelah mengalami kenaikan akibat sentimen geopolitik. Saat ini, area support terdekat berada pada kisaran US$95–US$97 per barel, dengan support berikutnya di sekitar US$93 per barel. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut, peluang minyak untuk kembali menguji resistance masih terbuka. Sementara itu, area resistance utama berada di kisaran US$99–US$101 per barel. Jika mampu menembus area tersebut, minyak berpotensi melanjutkan penguatan menuju level yang lebih tinggi.
Untuk WTI, harga masih bergerak dalam pola konsolidasi dengan perhatian pasar tertuju pada area support US$90–US$92 per barel. Jika level tersebut berhasil dipertahankan, peluang rebound masih terbuka dengan resistance terdekat berada di kisaran US$94–US$96 per barel. Namun, apabila tekanan jual meningkat dan harga menembus support, minyak berpotensi mengalami koreksi lebih lanjut akibat berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan.
Ke depan, arah pergerakan minyak akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, terutama negosiasi AS–Iran, kondisi pasokan Timur Tengah, serta data ekonomi global yang mencerminkan kekuatan permintaan energi. Selama risiko pasokan masih menjadi perhatian pasar, minyak berpotensi tetap bergerak volatil dengan katalis utama berasal dari perkembangan geopolitik dan kebijakan energi global.(mrv)*
Sumber: Newsmaker.id