
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga emas (XAU/USD) bergerak lebih stabil pada perdagangan hari ini setelah mengalami tekanan akibat keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak membantu memberikan ruang bagi emas untuk melakukan pemulihan, terutama setelah pasar mulai menyesuaikan ekspektasi terhadap arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.
Secara fundamental, emas masih menghadapi tekanan dari sikap The Fed yang cenderung hawkish. Proyeksi terbaru bank sentral menunjukkan sebagian besar pejabat masih melihat peluang adanya satu kenaikan suku bunga tambahan tahun ini. Kondisi tersebut menjaga yield Treasury AS tetap tinggi dan membatasi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Namun, risiko geopolitik Timur Tengah, termasuk ketegangan di sekitar Iran dan jalur energi global, masih menjadi faktor pendukung karena meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Dari sisi teknikal, emas masih berada dalam fase konsolidasi setelah mengalami penurunan tajam dari level tertingginya. Area US$4.250 menjadi support penting yang perlu dipertahankan karena penembusan di bawah level tersebut dapat membuka peluang pelemahan lanjutan menuju area US$4.200. Sementara itu, level US$4.300 menjadi resistance awal yang harus dilewati untuk mengembalikan momentum bullish dalam jangka pendek.
Jika harga mampu menembus dan bertahan di atas area US$4.300, peluang rebound dapat berlanjut menuju resistance berikutnya di kisaran US$4.350-US$4.400. Namun, apabila tekanan jual kembali muncul akibat penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi AS, emas berpotensi kembali menguji area support bawah.
Dengan demikian, arah emas hari ini masih akan sangat bergantung pada pergerakan dolar AS, yield Treasury, serta sentimen terhadap kebijakan The Fed. Kombinasi melemahnya dolar dan meningkatnya risiko geopolitik dapat menjadi katalis positif bagi emas, tetapi ekspektasi suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama tetap menjadi risiko utama yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id