
Trending

Analisis & Opini
Sumber: Newsmaker.id
Harga minyak bergerak melemah pada perdagangan Rabu (16/9) setelah pasar mendapat kejutan dari kenaikan stok minyak Amerika Serikat. Brent turun sekitar 0,86% ke US$107,82 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sekitar 0,92% ke US$104,86 per barel. Meski turun, kedua benchmark masih berada pada level tinggi setelah reli kuat dalam beberapa sesi terakhir akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Dari sisi fundamental, tekanan jangka pendek datang dari laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan persediaan crude AS meningkat 7,1 juta barel dalam pekan yang berakhir 11 September. Angka tersebut berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 1,6 juta barel. Persediaan bensin dan distilat juga dilaporkan meningkat, sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa pasokan domestik AS saat ini lebih longgar daripada yang diperkirakan. Pasar selanjutnya akan menunggu data resmi persediaan minyak dari Energy Information Administration (EIA).
Namun, koreksi harga masih dibatasi oleh risiko pasokan global. Arab Saudi menghentikan sebagian pengiriman minyak dari Pelabuhan Yanbu setelah serangan terhadap East-West Pipeline, jalur yang digunakan untuk mengalihkan sekitar 4 juta barel per hari minyak Saudi dari Selat Hormuz menuju Laut Merah. Pemerintah AS memperkirakan aliran minyak dapat kembali dalam beberapa hari, tetapi sejumlah sumber industri memperkirakan perbaikan penuh bisa membutuhkan waktu hingga lima atau enam minggu. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi.
Sentimen minyak hari ini juga tidak terlepas dari keputusan Federal Reserve. Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin berada di atas 90%, sementara yield Treasury AS 10 tahun masih berada di sekitar 5% dan Dollar Index mendekati level tertinggi dua pekan. Dolar yang lebih kuat dapat membatasi kenaikan minyak karena komoditas tersebut diperdagangkan dalam dolar, sedangkan suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menekan prospek permintaan ekonomi. Namun, selama gangguan pasokan Timur Tengah belum selesai, faktor geopolitik masih menjadi penopang utama harga.
Secara teknikal, WTI masih mempertahankan struktur bullish, meskipun sedang mengalami koreksi intraday. Harga bergerak di sekitar area pivot US$105,10, dengan RSI 14 berada di kisaran 58, sementara MACD masih memberikan sinyal positif. Support terdekat berada di area US$104,80, kemudian US$104,35–US$104,40. Jika level tersebut ditembus, tekanan dapat berlanjut menuju area US$103. Sebaliknya, resistance berada di US$105,50–US$105,85, kemudian US$106,30. Penembusan di atas area tersebut berpotensi membuka kembali ruang menuju US$108.
Pergerakan minyak hari ini menunjukkan tarik-menarik antara kenaikan stok AS yang menekan harga dan risiko gangguan pasokan Timur Tengah yang menjaga tren bullish. Selama WTI bertahan di atas area US$104 dan Brent tetap berada di atas US$107, tekanan turun masih dapat dianggap sebagai koreksi dalam tren naik. Namun, volatilitas berpotensi meningkat setelah data persediaan EIA dan keputusan FOMC, terutama jika dolar dan yield kembali melonjak. Sebaliknya, gangguan baru di Hormuz, Yanbu, atau jalur Laut Merah dapat dengan cepat mengembalikan momentum beli ke pasar minyak.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id