Dow Anjlok 768 Poin, Inflasi Tekan Pasar; Fed Tahan Bunga
Saham-saham AS anjlok pada Rabu (18/3) setelah data ekonomi terbaru serta pernyataan Ketua Federal Reserve memicu kekhawatiran bahwa inflasi di AS akan tetap membandel. Gelombang jual membuat investor kembali masuk mode defensif, terutama karena pasar menilai ruang pemangkasan suku bunga bisa lebih terbatas jika tekanan harga tidak cepat turun.
Dow Jones Industrial Average merosot 768,45 poin atau 1,6%, mencetak penutupan terendah baru untuk tahun ini dan ditutup di bawah 200-day moving average. Dengan penurunan bulan berjalan kini melampaui 5%, indeks blue-chip tersebut berada di jalur menuju bulan terburuk sejak 2022. S&P 500 turun 1,36%, sementara Nasdaq Composite melemah 1,46%.
Dari sisi kebijakan, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%–3,75%. Dalam pernyataan pasca-rapat, bank sentral menambahkan bahwa “implikasi perkembangan di Timur Tengah terhadap ekonomi AS tidak pasti,” menegaskan meningkatnya ketidakpastian saat perang Iran masih memicu guncangan energi dan risiko inflasi.
Dalam konferensi pers, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan proyeksi bank sentral masih mengarah pada kemajuan inflasi, meski tidak sebesar yang diharapkan. “Perkiraan kami adalah inflasi akan mengalami kemajuan, tidak sebanyak yang kami harapkan, tetapi tetap ada kemajuan,” kata Powell.
Meski demikian, bank sentral tetap memberi sinyal bahwa mereka masih memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga tahun ini. Namun respons pasar menunjukkan investor lebih menyoroti risiko inflasi yang bertahan lama, sehingga reli ekuitas tersendat dan volatilitas meningkat.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id