Saham Eropa Ditutup Anjlok Ditengah Konflik Timur Tengah
Saham Eropa ditutup anjlok tajam pada Senin (2 Maret 2026), mundur dari area rekor yang sempat diuji pekan lalu pasca perang pecah di Timur Tengah. Euro STOXX 50 turun sekitar 2,5% ke 5.987, sementara STOXX 600 melemah 1,5% ke sekitar 624, mencatat sesi terburuk dalam lebih dari tujuh bulan.
Tekanan datang dari lonjakan premi risiko geopolitik usai serangan AS–Israel terhadap Iran memicu serangan balasan di kawasan, yang ikut menambah kekhawatiran gangguan pasokan energi dan jalur logistik. Pasar merespons dengan mode risk-off, sementara reli minyak dan lonjakan harga gas mengangkat ekspektasi inflasi—mendorong yield Eropa naik dan memperketat kondisi finansial.
Sektor perbankan menjadi salah satu yang paling terpukul karena kombinasi kenaikan yield, risiko kredit, dan eksposur regional. Sejumlah bank besar Eropa—termasuk Santander, BBVA, dan Intesa Sanpaolo—tertekan tajam, sementara sektor finansial secara luas ikut terseret.
Saham consumer discretionary dan otomotif juga melemah karena prospek inflasi yang lebih tinggi berpotensi menahan daya beli serta memperlambat penurunan suku bunga. Saham-saham barang mewah seperti Inditex, LVMH, Hermès serta produsen mobil seperti BMW dan Volkswagen mencatat koreksi dalam, sejalan dengan rotasi keluar dari aset siklikal.
Di sisi lain, saham energi dan pertahanan menguat karena pasar memberi premi pada emiten yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas dan peningkatan belanja militer. Dengan pasar yang sangat “headline-driven”, fokus investor kini tertuju pada perkembangan konflik dan apakah lonjakan energi akan bertahan cukup lama untuk mengubah arah inflasi dan kebijakan moneter di Eropa.(yds)
Sumber: Newsmaker.id