Saham AS Melemah, Lonjakan Energi Tekan Selera Risiko
Saham AS melemah pada Senin (2/3) dan kembali menguji area terendah tahun ini, seiring eskalasi perang di Timur Tengah yang mendorong harga energi dan memicu pergeseran global dari aset berisiko ke instrumen defensif. Pada perdagangan awal, S&P 500 turun sekitar 0,8% dan Nasdaq melemah seiring investor bereaksi terhadap kombinasi risiko geopolitik dan tekanan biaya energi.
Tekanan risk-off menguat setelah serangan AS terhadap Iran—yang termasuk peringkat pemimpin tertinggi negara itu—diikuti serangan balasan Iran ke sejumlah target di wilayah. Situasi ini memperpanjang risiko konflik berkepanjangan, sementara pasar menilai potensi gangguan jalur perdagangan/energi dapat memperpanjang periode volatilitas global.
Lonjakan energi menghidupkan kembali kekhawatiran inflasi: minyak yang lebih mahal berpotensi menaikkan biaya logistik dan produksi, sehingga ekspektasi inflasi bisa kembali normal. Jika tekanan harga bertahan, pasar mulai memperhitungkan ruang pemangkasan suku bunga yang lebih sempit—bahkan kemungkinan kebijakan moneter lebih ketat dari bank sentral utama, termasuk Federal Reserve.
Pelemahan saham terjadi cukup merata. Raksasa teknologi seperti Amazon dan Apple terkoreksi, sementara sektor perbankan ikut tertekan—dengan sentimen kehati-hatian terkait kualitas kredit dan risiko di pasar pembiayaan non-bank (kredit swasta). Di sisi lain, saham produsen energi Amerika Utara menguat tajam, sejalan dengan reli minyak yang meningkatkan prospek pendapatan sektor energi.(alg)
Sumber: Newsmaker.id