Dolar AS Menguat, Yen Dekati Level Terlemah Sejak 1986
Dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan Selasa (23/6), didorong meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini. Indeks dolar bergerak di sekitar level 101 dan menyentuh posisi tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Penguatan ini terjadi karena investor kembali menilai bahwa suku bunga Amerika Serikat kemungkinan akan bertahan tinggi lebih lama, terutama setelah pertemuan The Fed pekan lalu menunjukkan sikap yang lebih hawkish.
Penguatan dolar juga diperkuat oleh imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi. Pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi penting, termasuk PMI, revisi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama, dan indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE. Data PCE menjadi perhatian utama karena merupakan indikator inflasi favorit The Fed. Jika angka inflasi masih kuat, peluang kenaikan suku bunga dapat semakin besar dan memberi ruang tambahan bagi dolar untuk melanjutkan penguatan.
Di Eropa, euro tertekan dan melemah ke level terendah dalam beberapa bulan terakhir. Tekanan muncul setelah Presiden European Central Bank, Christine Lagarde, meredam kekhawatiran soal efek inflasi lanjutan atau second-round effects. Pernyataan tersebut membuat pasar menilai ECB tidak akan seagresif The Fed dalam menaikkan suku bunga. Selain itu, data terbaru menunjukkan aktivitas sektor swasta zona euro masih menyusut untuk bulan ketiga berturut-turut, sehingga menambah tekanan terhadap mata uang euro.
Pound sterling juga bergerak melemah dalam perdagangan yang volatil setelah pengunduran diri Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menambah ketidakpastian politik di Inggris. Investor kini mencermati arah kepemimpinan baru dan dampaknya terhadap kebijakan fiskal. Meski pasar masih menilai transisi politik dapat berjalan terkendali, pound tetap rentan karena ekonomi Inggris juga sedang menghadapi tekanan dari pertumbuhan yang lemah dan pasar tenaga kerja yang menurun.
Sementara itu, yen Jepang kembali menjadi sorotan karena bergerak dekat level terlemah dalam hampir 40 tahun. Pasangan USD/JPY berada di sekitar 161 per dolar AS dan sempat mendekati area 161,96, yang jika ditembus dapat membawa yen ke level terlemah sejak 1986. Kondisi ini membuat pelaku pasar waspada terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang. Meski Bank of Japan telah menaikkan suku bunga, selisih imbal hasil yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat tetap membuat yen sulit pulih secara kuat.(arl)
Sumber : Newsmaker.id