Konflik AS-Iran Bikin Yen Tak Banyak Bergerak, Fokus ke BOJ dan Intervensi
Yen Jepang cenderung bertahan di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi penguatannya belum benar-benar lepas. Alasannya, konflik Timur Tengah saat ini tidak hanya mengangkat minat ke aset safe haven seperti yen, tetapi juga memperkuat dolar AS. Reuters melaporkan komentar Donald Trump yang menurunkan harapan de-eskalasi sempat mendorong dolar menguat bahkan terhadap yen, menandakan pasar masih melihat greenback sebagai tempat berlindung utama ketika konflik memburuk.
Di sisi lain, yen tidak jatuh lebih dalam karena Tokyo makin agresif memberi sinyal perlindungan terhadap mata uangnya. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan pemerintah siap bertindak terhadap pergerakan spekulatif di pasar valuta asing, sementara pejabat mata uang Jepang juga sudah memberi peringatan keras bahwa langkah tegas bisa diambil bila volatilitas berlanjut. Sikap ini membantu menahan tekanan jual lanjutan pada yen.
Fundamental domestik Jepang juga mulai memberi penyangga tambahan. Gubernur BOJ Kazuo Ueda mengatakan pergerakan nilai tukar sangat memengaruhi pertumbuhan dan harga, dan membuka ruang bahwa pelemahan yen serta kenaikan biaya impor dapat menjadi alasan untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Reuters juga melaporkan pejabat BOJ menilai lonjakan harga energi dari perang Iran bisa mendorong inflasi inti lebih kuat dari sebelumnya, sementara IMF justru mendorong BOJ untuk terus menaikkan suku bunga secara bertahap.
Jadi, kondisi yen yang “hold steady” lebih tepat dibaca sebagai hasil tarik-menarik dua kekuatan besar. Ketegangan AS-Iran memang mendorong permintaan aset aman, yang biasanya mendukung yen. Namun di saat yang sama, Jepang sangat rentan terhadap kenaikan harga energi karena bergantung pada impor, dan itu justru menguntungkan dolar serta menekan yen. Ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ dan ancaman intervensi pemerintah membuat pelemahan yen tidak berkembang liar, sehingga pergerakannya cenderung tertahan di tengah gejolak. Ini adalah inferensi dari laporan Reuters terbaru soal dolar, BOJ, dan sikap otoritas Jepang.(Zaf)
Source: Newsmaker.id