Dolar Menguat, Yen Tertekan Usai Sinyal Hati-hati dari Tokyo
Dolar AS menguat pada Selasa (24/2) setelah sempat tertekan di awal pekan, ketika pasar mencerna putusan Mahkamah Agung AS yang membatasi sebagian skema tarif pemerintahan Trump. Meski tarif lama dipersoalkan, Washington bergerak cepat dengan tarif global 10% dan wacana peningkatan ke 15%, membuat ketidakpastian perdagangan kembali menjadi tema utama di pasar valuta.
Penguatan USD juga ditopang nada lebih hawkish dari pejabat The Fed. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan pemangkasan suku bunga baru pantas dipertimbangkan bila ada bukti inflasi benar-benar kembali mendekati target 2%—memberi sinyal kebijakan tidak akan buru-buru dilonggarkan.
Dari sisi data, indikator ketenagakerjaan versi ADP menunjukkan rata-rata 4 minggu naik ke 12,8 ribu dari 11,5 ribu, ikut menguatkan narasi bahwa pasar tenaga kerja masih cukup stabil. Dengan dukungan tersebut, DXY menguat sekitar 0,26% ke 97,94 pada perdagangan terbaru, mencerminkan pemulihan permintaan dolar setelah gejolak tarif.
Di major pairs, EUR/USD diperdagangkan di dekat wilayah harga 1,1790, sedikit berubah sepanjang hari karena Bank Sentral Eropa (ECB) secara efektif mempertahankan inflasi di dekat target 2%. GBP/USD diperdagangkan di dekat 1,3510, memangkas sebagian keuntungan intraday tetapi masih berada di zona hijau, bahkan setelah Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey membuka pintu untuk pelonggaran lebih lanjut di tengah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS.
Di Asia, yen melemah setelah laporan bahwa PM Jepang Sanae Takaichi menyampaikan kehati-hatian soal kenaikan suku bunga lebih lanjut kepada Gubernur BoJ Kazuo Ueda—mendorong USD/JPY menguat ke sekitar 155–156. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id