Dolar AS Melemah Saat Reli Terbaru Mulai Kehabisan Tenaga
Dolar AS turun terhadap mayoritas mata uang utama pada Selasa (3/2) kecuali terhadap yen—ketika trader mulai mengunci profit dan mengonsolidasikan kenaikan terbaru yang sebelumnya didorong data AS yang solid serta ekspektasi Federal Reserve yang lebih “tidak terlalu dovish”. Di saat yang sama, kekhawatiran soal potensi shutdown pemerintah AS berikutnya ikut menekan sentimen.
DPR AS U.S. House of Representatives pada Selasa menyetujui kesepakatan bipartisan untuk mengakhiri shutdown parsial.
Greenback sempat perkasa dalam beberapa hari terakhir setelah Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed berikutnya. Pasar menilai Warsh cenderung kurang agresif mendorong pemangkasan suku bunga cepat dibanding kandidat lain.
Investor berharap data job openings Selasa dan rilis laporan tenaga kerja Januari pekan ini bisa memberi sinyal lebih jelas soal kondisi ekonomi AS dan apakah peluang pemangkasan suku bunga masih terbuka lebar. Namun, rilis-rilis tersebut tertunda akibat shutdown parsial.
“Di pasar ada tema yang cukup terasa: anti-dolar, anti-Treasury—dan saat ini kita seperti trading di sekitar tema itu,” kata Marvin Loh, senior global market strategist di State Street, Boston. Ia juga menyoroti bahwa dolar gagal mendapatkan “safety bid” ketika pasar mulai sedikit risk-off.
Indeks dolar—yang mengukur greenback terhadap sekeranjang mata uang—turun 0,12% ke 97,42, mundur dari kenaikan dua hari sebesar 1,5%. Euro naik 0,21% ke $1,1815.
Pemangkasan Suku Bunga The Fed Masih Diperkirakan
Presiden The Fed Richmond Tom Barkin mengatakan pemangkasan suku bunga telah membantu pasar tenaga kerja saat The Fed menghadapi “last mile” dalam menurunkan inflasi. Barkin menambahkan produktivitas yang meningkat membantu bisnis menekan biaya dan meredakan inflasi, tetapi belum jelas seberapa lama kondisi itu bertahan dan bagaimana kebijakan moneter perlu merespons.
Dari sisi data, sektor manufaktur AS menunjukkan kembali ke fase ekspansi. Institute for Supply Management melaporkan PMI manufaktur melonjak ke 52,6 bulan lalu—tertinggi sejak Agustus 2022.
“Kami belum melihat perubahan besar pada ekspektasi kebijakan The Fed setelah nominasi Warsh,” kata Shaun Osborne, kepala FX strategist di Scotiabank, Toronto. “Justru lebih mungkin ‘The Fed versi Warsh’ memangkas suku bunga lebih agresif dibanding yang selama ini dipricing-in pada ‘The Fed versi (Jerome) Powell’.”
Di luar itu, tensi geopolitik sedikit mendingin setelah AS mencapai kesepakatan dagang dengan India dan mengatakan pembicaraan nuklir akan kembali dilanjutkan dengan Iran.
Dolar Australia Meledak
Dolar Australia melonjak setelah Reserve Bank of Australia melakukan kenaikan suku bunga pertama dalam dua tahun, menaikkan cash rate 25 bps ke 3,85%. Bank sentral juga memberi peringatan soal inflasi, memicu spekulasi setidaknya masih ada satu kali kenaikan lagi tahun ini.
AUD naik 0,89% ke $0,7009. Aussie juga menyentuh level tertinggi terhadap yen sejak 1990, dan terakhir menguat lebih dari 1,5% ke 109,31 yen.
Sementara itu, European Central Bank dan Bank of England diperkirakan menahan suku bunga saat rapat Kamis. Pasar akan memantau apakah ECB memberi sinyal bahwa penguatan euro belakangan ini bisa memengaruhi arah kebijakan ke depan.
Menjelang akhir pekan, perhatian pasar juga mengarah ke pemilu majelis rendah Japan. Investor sempat menjual yen dan obligasi pemerintah Jepang jelang pemilu 8 Februari, dengan taruhan bahwa hasil kuat untuk partai Perdana Menteri Sanae Takaichi akan memberinya ruang lebih besar memperluas stimulus.
Yen sempat mendapat “nafas” pekan lalu setelah pembuat kebijakan Jepang mengisyaratkan kemungkinan aksi terkoordinasi dengan AS untuk mempertahankan mata uang.
Dolar terakhir naik 0,11% terhadap yen ke 155,77, namun masih di bawah puncak 1,5 tahun di 159,45 yang tercapai pertengahan Januari.
“Pasar takut kebijakan fiskal bakal lebih longgar setelah pemilu,” kata Jane Foley, head of FX strategy di Rabobank, London. Ia menambahkan Kementerian Keuangan Jepang (MoF) akan mengawasi, tetapi pengaruhnya bisa melemah setelah komentar bergaya “Trump-like” dari PM soal manfaat yen lemah bagi eksportir.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama pada Selasa membela komentar Takaichi yang menyoroti manfaat yen lemah, dengan mengatakan sang PM hanya merujuk pada “apa yang tertulis di buku teks”.
Kripto Ikut Tertekan
Di pasar kripto, bitcoin menyentuh level terendah sejak November 2024 dan terakhir turun 4,55% ke $74.880,91, sementara ether turun 6,01% ke $2.199,90.
Sumber: Reuters