Yen Masih Dalam Tekanan Suku Bunga BOJ
Nilai yen terhadap dolar AS sedang cukup lemah, berada sekitar ¥153 per US$1 dan sempat lebih lemah lagi.
Melemahnya yen ini dipicu oleh kebijakan suku bunga yang tetap rendah oleh Bank of Japan (BOJ), sementara negara lain seperti AS memiliki suku bunga yang jauh lebih tinggi, sehingga investor memilih aset dalam dolar atau mata uang lain.
Pemerintah Jepang juga agak khawatir dengan pelemahan yen karena memperbesar biaya impor bahan bakar dan makanan, yang akan berdampak ke harga di dalam negeri.
Bank of Japan (BOJ) tetap mempertahankan suku bunga rendah (sekitar 0,5 %) sementara bank sentral Amerika Serikat dan banyak negara lain punya suku bunga jauh lebih tinggi. Hal ini membuat investor lebih tertarik “menaruh uang” dalam mata uang selain yen karena hasil/imbal hasilnya bisa lebih besar.
BOJ meskipun sudah mulai menaikkan suku bunga sedikit, namun sangat berhati-hati karena ekonomi Jepang masih rapuh: produktivitas rendah, populasi menua, konsumsi rumah tangga lemah. Maka pasar menilai yen kurang “menarik
Karena yen lemah, Jepang yang banyak mengimpor energi dan bahan baku merasa terbebani: impor jadi mahal, yang bisa mendorong inflasi domestik dan menggerus daya beli masyaraka
Karena perbedaan imbal hasil (yield) antara Jepang dan negara lain besar, investor cenderung meminjam dalam yen (biaya rendah) dan menaruh uang di mata uang/ aset yang hasilnya lebih tinggi strategi yang disebut “carry trade” yang memperlemah yen lebih jauh.(cp)
Sumber: Newsmaker.id