Dolar Mulai Bangkit, Yield AS Kembali Menanjak
Dolar Amerika Serikat mulai berbalik menguat pada perdagangan Jumat setelah sempat menyentuh level terendah dalam sekitar enam pekan. Indeks dolar naik sekitar 0,3% ke area 100,2, meskipun masih berada di jalur pelemahan bulanan sepanjang Juli.
Kenaikan dolar terutama ditopang oleh meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield tenor dua tahun bergerak ke sekitar 4,25% karena investor menilai suku bunga Amerika masih berpeluang bertahan tinggi lebih lama di tengah inflasi yang belum sepenuhnya kembali menuju target The Fed.
Penguatan greenback juga terjadi setelah yen kehilangan sebagian kenaikan tajamnya. Mata uang Jepang sebelumnya melonjak karena dugaan intervensi pemerintah, tetapi kembali melemah setelah Bank of Japan mempertahankan suku bunga dan dinilai belum memberikan sinyal pengetatan yang cukup agresif.
Menurut analisis Newsmaker, kenaikan dolar saat ini masih lebih tepat disebut sebagai rebound daripada pembalikan tren penuh. Dolar dapat melanjutkan penguatan apabila yield AS terus naik dan data ekonomi menunjukkan tekanan inflasi tetap kuat. Namun, arah greenback masih rentan berubah karena The Fed belum memberikan petunjuk tegas mengenai langkah suku bunga berikutnya.
Dampak terhadap Market :
Emas: Penguatan dolar dan kenaikan yield berpotensi menekan emas karena biaya peluang memegang logam mulia meningkat. Namun, konflik AS–Iran masih dapat menahan penurunan melalui permintaan aset aman.
EUR/USD: Berpotensi terkoreksi karena dolar kembali memperoleh dukungan. Euro akan membutuhkan data ekonomi Eropa yang kuat untuk mempertahankan kenaikannya.
USD/JPY: Berpeluang kembali naik karena yen kehilangan momentum. Risiko intervensi lanjutan Jepang tetap dapat memicu pergerakan tajam secara tiba-tiba.
Saham AS: Kenaikan yield dapat menekan saham teknologi dan perusahaan dengan valuasi tinggi. Namun, dolar yang menguat juga dapat mencerminkan permintaan terhadap aset Amerika.
Rupiah: Berisiko melemah apabila penguatan dolar berlanjut dan mendorong arus modal keluar dari aset negara berkembang.
Kesimpulan: Kenaikan dolar menjadi sentimen negatif bagi emas, rupiah, dan pasangan EUR/USD. Namun, penguatan ini belum sepenuhnya solid karena pasar masih menunggu kepastian arah kebijakan The Fed.(CP)