Dolar Cetak Rekor 40 Tahun terhadap Yen
Dolar Amerika Serikat menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan Kamis (23/7), termasuk mencetak level tertinggi baru dalam 40 tahun terhadap yen Jepang. Greenback juga menguat terhadap euro setelah lonjakan harga minyak dan keputusan European Central Bank mempertahankan suku bunga meningkatkan permintaan terhadap dolar.
Penguatan tersebut terjadi ketika harga minyak Brent melanjutkan kenaikan untuk sesi kelima berturut-turut. Brent sempat menembus US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak akhir Mei setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global, terutama karena jalur pengiriman di sekitar Selat Hormuz juga masih menghadapi gangguan. Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi akan meningkatkan tekanan inflasi global.
Indeks Dolar AS, yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama, naik sekitar 0,3% ke level 101,47. Penguatan tersebut membawa indeks dolar menuju kenaikan harian terbesar dalam satu bulan.
Dolar mendapat dukungan dalam beberapa hari terakhir setelah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak lebih tinggi. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga untuk mengendalikan dampak inflasi dari kenaikan energi.
Ekonomi Amerika Serikat juga dinilai memiliki kemampuan yang lebih kuat dibandingkan Eropa dan Jepang dalam menghadapi biaya energi yang tinggi. Kondisi tersebut membuat dolar semakin menarik bagi investor di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Sementara itu, ECB mempertahankan tiga suku bunga utamanya. Suku bunga fasilitas deposito tetap berada di level 2,25%, suku bunga refinancing utama sebesar 2,40%, dan fasilitas pinjaman marginal di level 2,65%.
Keputusan tersebut telah diperkirakan pasar. Namun, ECB memperingatkan bahwa dampak penuh kenaikan harga energi terhadap inflasi belum sepenuhnya terlihat.
Bank sentral menilai prospek harga energi masih sangat volatil dan berada jauh di atas level sebelum konflik di Timur Tengah kembali meningkat. ECB juga menegaskan bahwa kebijakan moneter selanjutnya akan ditentukan berdasarkan data ekonomi dan diputuskan dalam setiap pertemuan.
Euro melanjutkan pelemahan setelah keputusan tersebut dan turun sekitar 0,35% ke level US$1,137. Pasar juga menunggu pernyataan Presiden ECB Christine Lagarde untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga berikutnya.
Yield Treasury AS yang tetap tinggi turut menopang penguatan dolar. Ekspektasi bahwa suku bunga Amerika akan bertahan tinggi membuat aset berdenominasi dolar lebih menarik dibandingkan mata uang lainnya.
Risiko geopolitik masih menjadi penggerak utama pasar valuta asing dan komoditas. Serangan militer terbaru AS terhadap sasaran di Iran serta ancaman Houthi terhadap kapal komersial menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi berbasis energi.
Di Inggris, pound sterling bergerak relatif stabil setelah inflasi konsumen Juni melambat menjadi 2,6%. Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Bank of England akan mempertahankan pendekatan kebijakan secara bertahap.
Dampak terhadap Pasar
Penguatan dolar berpotensi menekan euro, yen, dan mata uang berisiko lainnya. Harga emas juga dapat menghadapi tekanan apabila yield Treasury dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed terus meningkat.
Sementara itu, minyak masih berpeluang bertahan tinggi selama konflik Timur Tengah dan gangguan jalur pengiriman belum mereda. Kondisi ini dapat menjaga kekhawatiran inflasi serta membuat pasar saham global tetap volatil.(yds)
Sumber: Newsmaker.id