Dolar AS Bertahan Kuat, Konflik AS-Iran Panaskan Risiko Inflasi
Indeks dolar AS bergerak mendekati level 101 pada perdagangan Senin (20/07), setelah menguat dalam dua sesi berturut-turut. Penguatan ini ditopang oleh meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik dan kembali memicu kekhawatiran inflasi.
Militer Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan serangan udara baru terhadap Iran pada hari Minggu, setelah tiga anggota militernya tewas. Sementara itu, Teheran menyatakan gencatan senjata dengan AS secara efektif telah runtuh.
Iran juga menyebut telah mencegat empat kapal yang melintasi Selat Hormuz sepanjang akhir pekan. Kondisi ini membuat pasar semakin waspada terhadap gangguan jalur energi penting dunia dan menambah tekanan pada harga minyak.
Di sisi kebijakan moneter, Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, ikut memperingatkan risiko inflasi yang masih bertahan. Pernyataan ini menambah sinyal bahwa sejumlah pejabat The Fed masih berhati-hati terhadap tekanan harga yang belum sepenuhnya reda.
Dari sisi dampak pasar, dolar AS berpotensi tetap mendapat dukungan selama konflik AS-Iran menjaga harga minyak tetap tinggi dan ekspektasi suku bunga ikut meningkat. Pasar kini meramalkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September sekitar 53%, naik dari 47% sebelumnya, meskipun bank sentral diperkirakan masih menahan suku bunga pada pertemuan bulan ini. (asd)
Sumber: Newsmaker.id