Arus Akhir Kuartal Tekan Dolar AS
Dolar AS berbalik melemah pada perdagangan Jumat (26/6), setelah sebelumnya sempat menguat akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik di Selat Hormuz. Pergerakan pasar valuta asing cenderung dipengaruhi oleh arus transaksi akhir bulan dan akhir kuartal, di tengah minimnya katalis baru.
Indeks Spot Dolar Bloomberg turun 0,1%, setelah sebelumnya sempat naik 0,2% menyusul laporan serangan proyektil terhadap sebuah kapal di Selat Hormuz. Insiden tersebut sempat menekan sentimen risiko global dan mendorong permintaan terhadap dolar sebagai aset safe haven. Namun, dorongan tersebut tidak bertahan lama karena investor mulai melakukan penyesuaian posisi menjelang penutupan bulan.
Meski melemah pada sesi Jumat, indeks dolar masih naik sekitar 0,5% sejak awal pekan dan berada di jalur penguatan mingguan kedua. Dukungan utama bagi dolar tetap berasal dari ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini, meskipun data inflasi terbaru sedikit meredakan taruhan kenaikan yang lebih agresif.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 2 basis poin ke level 4,37%. Penurunan yield ini ikut membatasi kekuatan dolar. Sementara itu, harga Brent melemah lebih dari 3% ke sekitar US$72,68 per barel dan menuju pelemahan mingguan ketiga, seiring lalu lintas kapal di Selat Hormuz tetap berjalan dua arah meskipun risiko keamanan belum sepenuhnya hilang.
Euro berhasil kembali ke atas level 1,14 terhadap dolar AS, didukung oleh arus akhir bulan. EUR/USD naik hingga 0,3% ke sekitar 1,1408, sehingga memangkas pelemahan mingguannya menjadi sekitar 0,6%. Namun, volume transaksi spot masih berada di bawah rata-rata karena pelaku pasar cenderung menahan posisi menjelang akhir pekan.
Di Jepang, USD/JPY turun 0,2% ke sekitar 161,54. Yen masih bertahan dekat level terlemah sejak 1986, sehingga spekulasi intervensi dari otoritas Jepang tetap hidup. Data inflasi inti Tokyo naik 1,6% secara tahunan pada Juni, sesuai dengan perkiraan pasar. Angka tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pandangan Bank of Japan terhadap arah kebijakan suku bunga.
Pemerintah Jepang juga menegaskan akan menjaga keberlanjutan fiskal dalam penyusunan anggaran dan keputusan investasi. Pernyataan ini muncul setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi mengumumkan peta jalan investasi jangka panjang senilai US$2,3 triliun disertai reformasi anggaran besar-besaran.
Sementara itu, poundsterling ikut menguat terhadap dolar AS. GBP/USD naik 0,2% ke sekitar 1,3213 setelah ekspektasi inflasi rumah tangga Inggris ikut turun mengikuti pelemahan harga minyak. Kondisi ini memberi sinyal bahwa Bank of England mungkin dapat menghindari kenaikan suku bunga tambahan jika tekanan harga terus mereda.
Secara keseluruhan, pelemahan dolar pada Jumat lebih banyak dipengaruhi oleh arus akhir bulan dan koreksi teknikal setelah penguatan sebelumnya. Namun, selama ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed masih bertahan dan inflasi AS belum kembali mendekati target, dolar AS masih berpotensi mendapat dukungan dalam jangka pendek. (arl)
Sumber: Newsmaker.id