USD Menguat, EUR dan GBP Melemah Jelang Data AS
Dolar AS menguat terhadap seluruh mata uang G-10 pada hari Selasa (26/5), meski pergerakan masih dalam rentang sempit, ketika investor menilai dampak serangan AS terhadap kapal Iran di tengah pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah. Penguatan dolar mencerminkan kehati-hatian pasar setelah eskalasi terbatas, sekaligus menahan dorongan risk-on yang sebelumnya terbentuk dari harapan kemajuan negosiasi.
EUR/USD turun 0,2% namun memangkas pelemahan dan diperdagangkan sedikit lebih rendah di 1,1639. Dari sisi kebijakan, anggota Dewan Eksekutif ECB Isabel Schnabel mengatakan ECB seharusnya tetap menaikkan suku bunga bulan depan bahkan jika konflik Timur Tengah cepat mereda, sementara pasar uang hampir sepenuhnya mem-price-in kenaikan suku bunga pada Juni.
GBP/USD turun 0,2% ke 1,3478. Seorang trader berbasis Eropa mencatat volume spot berada di kisaran 60%–65% dari rata-rata beberapa waktu terakhir, menegaskan kondisi likuiditas yang belum sepenuhnya pulih pasca-libur AS dan membuat pergerakan FX lebih “rapat”.
Serangan AS terjadi beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran mengenai kesepakatan sementara “berjalan,” sementara US Treasury bertenor 10 tahun memangkas kenaikan sebelumnya setelah muncul kabar serangan. Yield sempat turun hingga tujuh basis poin ke 4,4866% dalam pergerakan catch-up setelah libur publik di AS pada Senin, sebelum stabil kembali di atas 4,50%. Ini menempatkan dolar pada dua penopang jangka pendek: sentimen risk-off ringan dan yield yang kembali menanjak dari titik terendah intraday.
USD/JPY naik 0,2% ke 159,20, sementara volatilitas satu pekan turun ke level terendah sejak Januari 2022, menunjukkan pasar melihat risiko kejutan jangka sangat pendek mulai mereda meski headline geopolitik masih aktif. Dari Jepang, Deputi Gubernur BoJ Ryozo Himino menekankan pentingnya menjaga kepercayaan pasar dalam mengendalikan inflasi melalui penyesuaian derajat pelonggaran moneter secara tepat, menjaga fokus pada kredibilitas kebijakan di tengah yen yang sensitif terhadap diferensial suku bunga.
Ke depan, fokus pasar AS tertuju pada rangkaian data seperti ADP, Philly Fed, dan consumer confidence. Data ini penting karena akan menentukan apakah yield kembali naik secara berkelanjutan atau justru melunak, yang pada gilirannya membentuk arah dolar. Di luar data, pasar juga akan terus memantau apakah eskalasi terbaru mengganggu jalur gencatan senjata, mengingat kombinasi geopolitik dan inflasi energi tetap menjadi kanal utama yang menggerakkan ekspektasi kebijakan dan permintaan dolar. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id