Dolar Tertekan, Euro-Pound Ikut Naik: Pasar Siaga Jelang The Fed
Dolar AS lanjut melemah tiga hari beruntun dan makin dekat ke zona terlemahnya sejak 2022, saat pasar opsi makin “berat” ke skenario USD lebih lemah—seolah trader mulai menganggap Washington nggak keberatan kalau dolar turun.
Tekanan ke greenback datang dari campuran isu: ketegangan dagang, risiko geopolitik, sampai bayang-bayang shutdown pemerintah AS yang bikin investor buru-buru lindung nilai dan ngurangin eksposur aset dolar.
Di saat yang sama, yen jadi sorotan. Spekulasi intervensi makin kencang setelah laporan “rate check” dari New York Fed memicu unwinding posisi short-yen, ditambah sinyal pejabat Jepang yang siap bertindak kalau pergerakan dianggap spekulatif dan “nggak normal.”
Pasar juga lagi nunggu dua “pemicu” minggu ini: hasil rapat FOMC dan rumor penunjukan ketua The Fed berikutnya. Kombinasi ini bikin volatilitas FX makin gampang meledak karena menyangkut arah suku bunga dan kredibilitas kebijakan.
Sementara dolar melemah, mata uang Eropa ikut kebagian angin. Euro dan pound menguat karena arus “jual dolar” makin rame, apalagi setelah data Inggris yang cukup solid ikut dorong sterling.
Harga terupdate (indikatif intraday)
Dollar Index turun ke 97,01 (-0,46%)
USD/JPY: 154,18 (-0,64%)
EUR/USD: 1,1881 (+0,45%)
GBP/USD: 1,3676 (+0,29%)
USD/CHF: 0,7768 (-0,45%)
USD/CAD: 1,3716 (+0,13%)
Ke depan, pasar bakal super sensitif sama 2 hal: nada Powell (hawkish vs dovish) dan headline soal aksi yen. Selama dua tema ini belum “clear”, dolar rawan tetap digoreng volatilitas. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id