Harapan Cut Rate Pudar, Dolar Masih Pegang Kendali
Dolar AS sedikit terkoreksi pada Jumat (16/1), namun tetap berada di jalur untuk mencatat kenaikan mingguan ketiga beruntun setelah rangkaian data AS yang lebih kuat membuat pasar makin yakin The Fed belum perlu buru-buru memangkas suku bunga. Indeks Dolar (DXY) turun tipis sekitar 0,1% ke area 99,1, tetapi masih mengarah naik sekitar 0,2% untuk pekan ini.
Penopang utama dolar datang dari data tenaga kerja: klaim pengangguran awal AS turun tak terduga ke 198 ribu, jauh di bawah perkiraan 215 ribu—sinyal bahwa pasar kerja masih tahan banting. Kondisi ini mendorong pelaku pasar menggeser timing pemangkasan suku bunga pertama ke pertengahan tahun, karena ruang pelonggaran dianggap belum mendesak selama inflasi belum benar-benar jinak.
Nada pejabat The Fed juga menjaga ekspektasi “tahan lebih lama”. Presiden Fed Chicago Austan Goolsbee menegaskan fokus utama tetap mengembalikan inflasi ke 2%, sementara Presiden Fed Kansas City Jeff Schmid menyebut inflasi masih “terlalu tinggi”. Dari sisi lain, Presiden Fed San Francisco Mary Daly menilai deret data AS ke depan terlihat cukup menjanjikan—membuat pasar semakin nyaman dengan skenario suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Di Eropa, pergerakan mata uang relatif terbatas. EUR/USD menguat tipis ke sekitar 1,1613 setelah data menunjukkan inflasi Jerman Desember tidak berubah secara bulanan dan naik sekitar 1,8% secara tahunan—sedikit di bawah target jangka menengah ECB. GBP/USD juga naik tipis ke area 1,3390.
Sementara di Asia, USD/JPY turun ke sekitar 158,2 karena yen sedikit menguat dari level terlemah hampir 18 bulan. Penguatan yen terbantu oleh peringatan verbal dari otoritas Jepang; Menteri Keuangan Satsuki Katayama menegaskan Tokyo “tidak mengesampingkan opsi apa pun” untuk menahan pelemahan yen, termasuk peluang langkah intervensi—bahkan jika diperlukan lewat koordinasi dengan Washington. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id