Dolar Menguat, Yen Ambruk ke Terlemah Sejak Juli 2024
Dolar AS menguat secara luas pada Selasa (13/1), sementara yen Jepang jatuh ke level terlemah sejak Juli 2024 di tengah kekhawatiran pasar bahwa Jepang akan menuju kebijakan fiskal dan moneter yang lebih longgar. USD/JPY naik 0,6% ke 159,11, memicu spekulasi bahwa otoritas Jepang bisa kembali melakukan intervensi untuk menahan pelemahan yen yang dianggap terlalu cepat.
Tekanan pada yen makin besar setelah muncul sinyal politik dari Tokyo. Perdana Menteri Sanae Takaichi disebut mempertimbangkan pemilu lebih awal (kemungkinan Februari), yang dinilai pasar bisa membuka ruang untuk kebijakan defisit lebih longgar dan sikap moneter yang lebih dovish.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga menyatakan ia dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent sama-sama khawatir atas pelemahan yen yang “satu arah”, mempertegas bahwa ancaman intervensi bukan sekadar wacana.
Dari sisi AS, dolar sempat turun sebentar setelah data inflasi keluar, namun kemudian kembali menguat. CPI AS naik 0,3% (MoM) dan 2,7% (YoY), sementara CPI inti naik 0,2% (MoM) dan 2,6% (YoY)—cukup “jinak”, tapi tidak cukup untuk mengubah keyakinan bahwa The Fed masih akan menahan suku bunga sampai tekanan harga benar-benar mereda.
Reaksi pasar menunjukkan banyak trader sebelumnya sudah “pasang posisi” untuk kemungkinan inflasi yang lebih tinggi, sehingga rilis yang lebih ringan justru mendorong volatilitas antar mata uang.
Di pasar utama, Dollar Index (DXY) naik 0,28% ke 99,15. Euro melemah ke $1,1647, pound turun ke $1,3428, dan dolar Australia berada di $0,668 (sempat memantul sesaat setelah data). Dolar juga mendapat dukungan dari data tenaga kerja AS yang solid pada Jumat, yang memperkuat ekspektasi The Fed akan tetap hawkish/bertahan pada pertemuan 27–28 Januari.
Sementara itu, pasar juga memantau isu independensi The Fed setelah Departemen Kehakiman AS mengancam dakwaan terhadap Ketua Fed Jerome Powell terkait proyek renovasi gedung, dan sejumlah pejabat bank sentral global merilis pernyataan dukungan untuk Powell.
Trump diperkirakan akan mengumumkan kandidat pengganti Powell dalam beberapa minggu ke depan (masa jabatan Powell sebagai ketua berakhir Mei), dan Trump menilai data inflasi Desember mendukung dorongannya agar suku bunga dipangkas.
Di luar makro, tensi geopolitik (Venezuela, Iran, Greenland) serta potensi putusan Mahkamah Agung terkait legalitas kebijakan tarif Trump ikut jadi sumber risiko pasar.
Di aset kripto, bitcoin naik 3,12% ke $93.811, ikut terbantu oleh meredanya kekhawatiran inflasi dan sentimen risk-on sesaat setelah rilis data.(yds)
Sumber: Newsmaker.id