Dolar Keok, The Fed Siap Putar Haluan?
Dolar AS melemah dan menuju salah satu pekan terburuknya sejak pertengahan tahun seiring pasar makin yakin Federal Reserve bakal memangkas suku bunga pada Desember. Ekspektasi pelonggaran kebijakan ini muncul setelah serangkaian data menunjukkan inflasi mulai jinak, penjualan ritel melambat, dan kepercayaan konsumen menurun. Kontrak berjangka suku bunga Fed kini memproyeksikan kemungkinan pemangkasan suku bunga sebesar 25 bps di atas 80%, jauh lebih tinggi dibanding sepekan sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, imbal hasil obligasi AS cenderung turun dan membuat daya tarik dolar sebagai aset berimbal hasil melemah.
Komentar bernada dovish dari sejumlah pejabat The Fed turut menekan Greenback. Figur seperti Mary Daly dan Christopher Waller memberi sinyal bahwa ruang pemangkasan suku bunga sudah mulai terbuka jika inflasi terus bergerak mendekati target 2%. Di sisi politik, pasar juga menimbang skenario bahwa Kevin Hassett—yang dikenal pro suku bunga rendah—bisa saja menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed di bawah pemerintahan Donald Trump. Kombinasi “The Fed lebih lunak” dan “Gedung Putih pro bunga rendah” membuat pelaku pasar mulai memposisikan diri untuk era dolar yang lebih lemah dalam beberapa kuartal ke depan.
Di tengah pelemahan dolar, mata uang utama lain seperti euro, poundsterling, dan dolar Australia mendapat angin segar, sementara emas dan perak ikut menikmati aliran dana sebagai aset lindung nilai. Bagi pelaku pasar global, dolar yang melemah punya dua sisi: di satu sisi meringankan beban negara dan korporasi yang punya utang dalam dolar, tapi di sisi lain menjadi sinyal bahwa perekonomian AS memasuki fase pertumbuhan yang lebih lambat. Selama narasi pemangkasan suku bunga The Fed tetap dominan dan tidak dibantah keras oleh data inflasi berikutnya, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berlanjut, membuat pergerakan Greenback ke depan sangat sensitif terhadap setiap rilis data dan komentar pejabat bank sentral. (az)
Sumber: Newsmaker.id