Spekulasi Rate Cut Luntur, Dolar Makin Galak
Dolar AS berada di jalur penguatan mingguan terbaik dalam lebih dari sebulan karena pasar makin ragu The Fed akan memangkas suku bunga pada Desember. Laporan tenaga kerja AS bulan September yang tertunda justru memunculkan gambaran campuran: pertumbuhan lapangan kerja lebih cepat dari perkiraan, tetapi tingkat pengangguran naik ke 4,4%, tertinggi dalam empat tahun. Data ini tidak memberi sinyal jelas ke arah pelonggaran, sehingga peluang pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan kini diperkirakan hanya sekitar 27%.
Di pasar valas, euro tertekan di dekat level terendah dua pekan di sekitar $1,15 dan menuju penurunan mingguan sekitar 0,8%. Poundsterling bergerak tipis di kisaran $1,30 namun juga masih melemah sekitar 0,7% dalam sepekan, dengan pelaku pasar menunggu pengumuman anggaran Inggris yang bisa menjadi ujian besar bagi sterling dan obligasi pemerintah. Indeks Dolar berada di dekat puncak 5,5 bulan di sekitar 100,20 dan diproyeksikan mencatat kenaikan mingguan sekitar 0,9%.
Mata uang komoditas bergerak lebih stabil. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru masing-masing sedikit menguat pada perdagangan Jumat pagi setelah sehari sebelumnya terpukul sentimen risk-off dan melemah cukup tajam. Namun fokus utama pasar valas justru tertuju ke pergerakan yen yang terus merosot.
Yen Jepang terperosok ke sekitar level terendah 10 bulan di area 157 per dolar dan berpotensi mencatat pelemahan hampir 2% dalam sepekan, di tengah kekhawatiran pasar terhadap posisi fiskal Jepang yang memburuk akibat paket stimulus besar Perdana Menteri Sanae Takaichi sekitar 21,3 triliun yen. Menteri Keuangan Satsuki Katayama membuka peluang intervensi jika pergerakan mata uang dinilai terlalu liar dan spekulatif, sehingga risiko intervensi menjadi topik utama. Sementara itu, inflasi inti Jepang masih berada di sekitar 3%, di atas target 2% bank sentral, sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga jangka pendek tetap hidup dan menambah dinamika pada pergerakan yen.
Sumber : Newsmaker.id