Pound Turun, Saat Outlook Inggris Memburuk
Pound sterling melemah ke sekitar US$1,35 pada Rbu (29/04) ketika pelaku pasar menilai pembaruan proyeksi ekonomi Inggris dan menunggu keputusan kebijakan The Fed serta Bank of England (BoE), di tengah perhatian pada perkembangan pembicaraan AS-Iran. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas sterling terhadap kombinasi faktor domestik Inggris dan risiko geopolitik yang memengaruhi sentimen global.
Dari sisi domestik, Lloyds merevisi naik proyeksi inflasi Inggris 2026 menjadi 3,4% dari 2,6%, sembari memangkas estimasi pertumbuhan PDB 2026 menjadi 0,5% dari 1,2%. Bank tersebut juga tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga BoE tahun ini, setelah sebelumnya memproyeksikan dua kali pemotongan, dan melihat tingkat pengangguran memuncak di 5,6% pada kuartal IV (dari 5,3%).
Untuk pekan ini, baik The Fed maupun BoE diperkirakan menahan suku bunga, seiring kehati-hatian di tengah krisis Timur Tengah. Namun pasar masih mengantisipasi dua kenaikan suku bunga BoE masing-masing 25 bps pada 2026, membuat jalur ekspektasi kebijakan tetap menjadi penentu utama arah sterling terhadap dolar.
Di sisi eksternal, lonjakan Brent ke level tertinggi empat tahun menambah lapisan risiko bagi prospek inflasi dan pertumbuhan, terutama jika tekanan energi bertahan. Pasar juga mencermati laporan Wall Street Journal yang menyebut Presiden AS Donald Trump mengarahkan staf menyiapkan skenario blokade angkatan laut berkepanjangan di Selat Hormuz untuk meningkatkan tekanan ekonomi pada Iran—perkembangan yang berpotensi mempertajam volatilitas FX melalui kanal harga energi dan risk sentiment. (asd)
Sumber: Newsmaker.id