Pound Stagnan, Krisis Politik Inggris Jadi Beban
Poundsterling jalan di tempat di sesi Eropa hari Senin (9/1), tidak melanjutkan kenaikan tipis sebelumnya. Pada 09:34 GMT, GBP/USD berada di sekitar 1,360 dan turun tipis sekitar -0,12% (perubahan 24 jam).
Yang bikin pound agak berat bukan cuma soal data, tapi juga noise politik. Pengunduran diri kepala staf Downing Street, Morgan McSweeney, bikin pasar kembali sensitif ke isu stabilitas pemerintahan—apalagi kasusnya nyangkut ke keputusan kontroversial soal penunjukan duta besar. Ini tipe headline yang bisa bikin pelaku pasar “males agresif” pegang GBP.
Di sisi lain, justru dolar yang lagi kehilangan tenaga. DXY turun ke sekitar 97,5 dan melemah -0,27%, karena trader ngerem dulu jelang pekan data AS yang padat (jobs dan inflasi) sekaligus karena sentimen risk-on mulai balik.
Fokus terdekat pasar sekarang: laporan tenaga kerja AS yang tertunda (Rabu) dan CPI (Jumat). Selama angka-angka ini belum keluar, pasar akan terus “nebak” kapan The Fed mulai lebih dovish—dan itu yang bikin dolar gampang goyang, sementara GBP/USD cenderung flat karena ketahan isu domestik Inggris.
Dari kubu bank sentral, komentar pejabat The Fed juga berpotensi bikin arah dolar tambah nggak rapi—ada yang condong santai soal suku bunga, ada juga yang tetap takut inflasi balik bandel. Jadi untuk sementara, gambar besarnya gini: dolar lagi melemah, tapi pound belum bisa manfaatin penuh karena faktor politik sendiri. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id