Dolar Menguat, Euro Tertekan oleh Lonjakan Yield AS
Dolar AS menguat pada perdagangan Jumat (24/7) dan mendorong euro bergerak lebih rendah. Indeks Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi dalam tiga pekan.
Penguatan dolar didorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan lonjakan harga minyak. Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun menembus 4,7%, sedangkan tenor 30 tahun bertahan di atas 5%.
EUR/USD melemah setelah dolar melanjutkan kenaikan pascapertemuan Bank Sentral Eropa. ECB mempertahankan suku bunga acuannya dan tetap menggunakan pendekatan berdasarkan perkembangan data pada setiap pertemuan.
Perbedaan ekspektasi kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan Eropa semakin melebar. Pasar swap kini memperkirakan The Fed hampir pasti menaikkan suku bunga pada pertemuan September untuk meredam tekanan inflasi.
Tekanan inflasi juga meningkat setelah tarif baru Presiden Donald Trump mulai berlaku. Amerika Serikat mengenakan tarif sebesar 10% hingga 12,5% terhadap impor dari 60 mitra dagang, sementara minyak Brent bertahan di atas US$100 per barel akibat gangguan jalur pelayaran di Laut Merah dan Teluk Persia.
Selama imbal hasil obligasi, harga energi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi, dolar berpotensi mempertahankan penguatannya. Pasar selanjutnya akan mencermati pertemuan The Fed, Bank of Japan, Politbiro China, serta data PMI manufaktur China.(arl)
Sumber: Newsmaker.id