EUR/USD Tetap Tertekan, Shock Energi Memburuk Sentimen Euro
ociete Generale menilai EUR/USD masih berada di bawah tekanan dengan bias bearish dalam jangka pendek karena pasar kembali melakukan repricing akibat shock energi. Kepala strategi FX SocGen Kenneth Broux mengatakan lonjakan harga energi, termasuk penguatan gas Belanda, membebani sentimen euro dan membuat pasangan EUR/USD sulit membangun pemulihan.
Menurut SocGen, pergerakan EUR/USD saat ini tidak digerakkan oleh selisih suku bunga (rate differentials). Fokus pasar bergeser ke risiko pertumbuhan di kawasan euro ketika harga minyak dan gas naik tajam. Kenaikan biaya energi dipandang berpotensi menekan konsumsi dan margin perusahaan, sehingga outlook pertumbuhan menjadi lebih rapuh meski inflasi bisa terdorong naik.
Di sisi kebijakan, pasar justru semakin agresif mem-price in pengetatan ECB. SocGen mencatat probabilitas implisit untuk kenaikan suku bunga pertama pada Juni kini sekitar 84%, dan pricing ESTR mengarah pada dua kali kenaikan suku bunga hingga Desember. Namun bank menekankan, repricing ini belum cukup mengimbangi beban sentimen yang datang dari shock energi.
Komentar dari anggota Dewan ECB Isabel Schnabel juga menyoroti isu inti yang kini membayangi kebijakan: shock energi dapat mendorong inflasi menyimpang dari target, tetapi pertanyaan besarnya adalah apakah kenaikan harga minyak bersifat sementara atau justru lebih persisten. Ketidakpastian durasi shock energi inilah yang membuat euro lebih sensitif, dan menjaga EUR/USD tetap tertekan.
Dampak ke pasar
EUR/USD: bias tetap bearish selama energi menjadi tema utama dan risiko pertumbuhan eurozone membesar.
ECB pricing vs EUR: meski pasar mem-price in kenaikan ECB, euro bisa tetap tertahan jika investor lebih fokus ke dampak energi terhadap pertumbuhan.
Risk sentiment Eropa: energi mahal meningkatkan risiko stagflasi ringan, menekan ekuitas Eropa dan memperlebar volatilitas FX.
Yang perlu dipantau pelaku pasar
Harga minyak dan Dutch TTF gas (apakah lonjakan bertahan atau cepat mereda).
Indikator pertumbuhan eurozone (PMI, survei bisnis, data konsumsi) untuk menguji narasi “growth hit”.
Komentar pejabat ECB soal persistensi shock energi dan tolerance terhadap inflasi.
Pricing ESTR: apakah pasar tetap mempertahankan dua kenaikan hingga Desember dan peluang Juni 84%.(Cp)
Sumber: Newsmaker.id